Dayungan ini semakin berat
Arus yang menerjang kian menghantam bebatuan di lautan
Ombak kian meninggi
Hingga menghempaskan air menuju tepian
Angin kini mulai menghembus kencang
Hingga tak dapat menahan kibaran bendera penanda itu
Dalam episode menerjang ombak,
Ku berpesan pada Lautan,
Berdamailah!
Agar pendayung dapat tertidur pulas hari ini.
.
Jika tlah lelah mendayung
Kerahkan prajuritmu untuk berperang
Menggantikan senyawa yang sedang tertidur oleh ombak
Jika pertarungan tlah usai
Bersihkan sisa tempurmu untuk mendaki ke daratan
Tepian itu tak slamanya menjadi pelindung
Kapan saja ia dapat diterka muluk ombak yang dahsyat
Ketika di penghujung waktu terengah
Berikan dahulu pertolongan terbaikmu
Hingga prajurit itu siap sigap kembali.
Dalam episode menepi,
Bila jarak tak menjadi penghalang,
Lautan dan daratan pun punya batas,
Menepilah!
Agar kita bertemu di satu muara.
.
Cermin tak mendua
Ia cukup tersanding dengan satu benda, maka ia akan mencerminkannya
Hidup tak meski risau
Cukup 'lakukan' maka akan 'didapatkan'
Jikalau dipertengahan jalan mendapat gebrakan
Terima saja!
Namanya hidup.
Sungguh khawatir jika tak ada penggebrak
Karenanya tiadalah yang memperdulikan.
Hidup sebatas panggung sandiwara,
Pemain tak punya kuasa
jika yang punya skenario tak bersuara.
Dalam episode berdrama,
Saat lelah melawan ombak dan akhirnya menepi
Sadarlah!
Kita sedang memulai hidup.
.
Depok, 25 Agustus 2018