menjadi orang yang di butuhkan oleh banyak orang.. :)

AKU INGIN HIDUP SEPERTI PAHLAWAN




Namaku Refi Ardiansyah, aku adalah siswa kelas X SMA Suka Mulya  yang menjabat sebagai koordinator sekretariat bidang 2 (Pendidikan, Pendahuluan Bela Negara) di OSIS SMA Suka Mulya. Berkecimpung di kegiatan OSIS merupakan kegiatan terpenting setelah kegiatan belajar di sekolah. Aku merasa tidak cukup hanya dengan menggeluti bidang akademis saja. Tentulah dalam kehidupan bermasyarakat kita perlu bersosialisasi dengan orang-orang disekitar kita. Dalam melaksanakan berbagai hal kita memerlukan keberanian dan percaya diri yang kuat. Di kegiatan OSIS inilah aku bisa belajar tentang kedewasaan dalam memutuskan suatu keputusan, belajar tetang keberanian dan rasa percaya diri ketika berbicara di depan umum. Agar dapat menjadi tokoh besar yang sangat berpengaruh bagi bangsa Indonesia seperti Ir. Soekarno yang sangat hebat akan pidato-pidatonya, sangat kental dengan gayanya yang pemberani dan berwibawa membuat aku terus belajar untuk berani tampil di depan umum. Entah itu berpidato, membaca puisi, ataupun presentasi.
Pada suatu hari, pengurus OSIS sedang pusing memikirkan program kerja untuk bulan Oktober. Kebetulan sekali bulan Oktober adalah bulan dimana Bangsa Indonesia menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Dimana pada saat itu kental dengan peristiwa Sumpah Pemuda. 3 nilai yang sangat berharga dan merupakan salah satu penyempurna kemerdekaan Indonesia.
Hal itu yang membuat aku terinspirasi untuk bulan Oktober ini dari sekretariat bidang ke 2 di OSIS yang aku koordinatori akan mengusulkan untuk mengadakan peringatan Sumpah Pemuda yang di dalamnya tersisipkan makna berbahasa. Aku berencana untuk mengusulkan ini nanti setelah kegiatan KBM berakhir kepada Ketua OSIS. Aku merasa bingung dengan gaya anak remaja zaman sekarang. Mereka enggan menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Sebut saja itu  bahasa alay menurut mereka itu bahasa keren. Ya... itu keren! Dari manakah mereka dapat bahasa alay tersebut? Apa untungnya? Malukah kita dengan bahasa Indonesia yang kita punya? Bahasa Indonesia yang diciptakan dari hasil jerih payah perjuangan dan pemikiran para pahlawan-pahlawan kita. Apa itu cara kita sebagai generasi muda dalam menghargai karya pahlawan-pahlawan kita?
“Heyyy... Refi, kamu kenapa sih kelihatannya lagi kesel banget. Apa salah notebook kepadamu? Itu keyboardnya nanti rusak tau... !!! hehe..” Celenehan Dita kepadaku, katanya aku terlihat sedang kesal sekali. Mengetik pun seperti tidak tenang.
“Eehh... kamu Dit. Ini abisnya aku kesal sama anak zaman sekarang itu loh, bahasa yang digunakan mereka seenaknya. Bayangin aja coba sama kamu gaya SMSan anak remaja kaya apa. Tulisan semangat dirubah jadi cemungut, sekali jadi sekeles, maaf jadi muupph, sayang jadi chayank. Aaahhhh... banyak deh pokoknya, apalagi kalau udah dicampur-campur angka gitu. Contohnya saja, aku lagi beli buku tulisannya jadi 4ku l4gi b3li buku.” Aku menjelaskan kepada Dita dengan nada sedikit kesal.
“Haha... kamu itu ya so munafik Ref. Kamu juga anak remaja yang sedang masa-masa labilnya kali. Kaya kamu gak pernah pake bahasa alay saja.” Ucap Dita yang merasa tersinggung.

“Bukannya aku munafik, ya memang dulu aku pernah memakai bahasa yang aneh itu. Tapi sekarang??? Aku sudah sadar, setelah aku diceritakan oleh guruku bahwa Presiden Soeharto pada saat itu jika ada pertemuan di luar negeri beliau berpidato menggunakan bahasa Indonesia. Beliau tidak merasa malu dengan bahasa Indonesia. Supaya orang-orang diluar sana tahu bahwa negara Indonesia pun punya bahasa nasional yang harus diakui oleh negara-negara lain. Masa nanti kalau aku jadi presiden pidatonya pake bahasa alay? Kan gak lucu! Hemm...” Aku sedikit membantah dengan tidak meninggalkan sikap bijak.
“Hahaha... kamu ada-ada saja Ref. Iya... iya... aku dukung kamu deh buat program OSIS yang sekarang. Semoga SUKSES yooo...” Dita memberi dukungan kepadaku.
5 menit kemudian. (Bel pulang berbunyi)
“Dit, aku mau menghadap ketua OSIS dulu ya. Soalnya mau mengajukan programku yang spektakuler ini. Hehe...”
Aku bergegas menghadap ketua OSIS agar programku cepat terealisasi. Semangatku berkobar membara. Seperti mentari yang setia mengiringi setiap langkahku.
“Kak, gimana untuk agenda bulan Oktober apakah sudah ada rencana?” Tanyaku kepada ketua OSIS.
“Belum Ref. Apakah kamu sendiri punya rencana untuk bulan Oktober nanti?” Tanya ketua OSIS padaku.   
“Ya... memang aku punya sedikit usulan sih Kak. Hehe...” Aku menjawab sambil tersenyum.
“Wooww... apa itu Ref? Kakak pasti akan tampung aspirasimu kok.” Jawab katua OSIS dengan sangat antusias.
“Begini kak, kan bulan Oktober itu identik dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Nah... aku dari Sekbid 2 punya usulan bagaimana kalau diadakan peringatan Sumpah Pemuda yang didalamnya terdapat acara Seminar tentang penggunaan bahasa? Karena dalam peristiwa Sumpah Pemuda terdapat nilai “Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia”. Aku agak kesel aja Kak kalau ada anak-anak sekolah kita yang bicaranya pake bahasa alay tuh. Heemm... ” Usulanku kepada ketua OSIS.
“Bagus sekali usulanmu, Kakak setuju. Nanti mau menghubungi dulu pembina OSIS ya. Terus nanti kita rapatkan bersama pengurus OSIS yang lain. Terima kasih untuk usulannya ya Ref. Hehe...” Dukungan ketua OSIS mengobarkan semangatku.
            Akhirnya aku dan rekan-rekan dari Sekbid 2 sangat bangga karena usulan kami didukung dengan sangat baik.
Ada 1 hal yang sangat membuat aku merasa malu yaitu ketika pergi Study Tour ke Candi Borobudur. Pada saat itu, aku bertemu dengan turis entah dari negara mana. Aku dan teman-temanku ingin berfoto bersama mereka. “Mr. Can i and my friends take photo with you?” Aku bertanya kepada turis tersebut dan turis itu menjawab “Of course... Of course...” Setelah berfoto, kami mengucapkan terima kasih kepada turis tersebut “Thank You Mr.” Kami kaget dengan jawaban turis itu “Sama-sama...” disitulah aku dan teman-teman merasa malu dan tidak menyangka bahwa orang asing pun dapat berbahasa Indonesia. Mereka ingin belajar bahasa Indonesia yang kami tahu selama ini bahasa Indonesia hanyalah bahasa yang kurang perhatian dari masyarakat dunia. Ditambah lagi generasi bangsa yang menjadi harapan negara kini mulai acuh kepada bahasa Indonesia. Bahkan terkesan keren dan gaya jika dalam kesehariannya ia menggunakan bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahkan sedang gencar-gencarnya para remaja menyukai artis-artis dari negara Korea. Jadi tidak aneh anak muda zaman sekarang banyak yang menggunakan bahasa Korea. Tidak salah memang, mempelajari bahasa-bahasa asing itu sangat diharuskan karena untuk mempermudah kita ketika mencari pekerjaan.
Namun sayangnya, jati diri Indonesia mulai memudar. Adanya era globalisasi membuat generasi muda Indonesia saat ini sangat menyedihkan. Entah itu dari sopan santun, cara berbicara, cara berpakaian, dan lain sebagainya. Hal ini yang membuat nilai-nilai penting yang terkandung dalam Pancasila itu mulai tidak diperhatikan.
Masalah-masalah itu terlalu banyak bermunculan. Tetapi yang ingin aku tekankan sekarang adalah lebih kepada cara berbicara yang sangat jauh sekali dari EYD. Memang terasa kaku jika harus berbicara sesuai EYD. Tetapi minimalnya kita sebagai generasi muda yang tugasnya meneruskan cita-cita para pahlawan-pahlawan kita yang telah bersusah payah memperjuangkan segala apa yang dibutuhkan oleh negara kita tercinta ini salah satunya adalah Bahasa Indonesia yang harus kita junjung tinggi dan selalu menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat untuk berkomunikasi bukanlah bahasa alay yang kita pergunakan.
Siapakah penemu bahasa alay?
Mungkinkah Soekarno? Apa mungkin Soeharto? Ataukah BJ. Habibie? KH. Abdurachman Wahidkah? Megawatikah? Apa mungkin juga SBY? Atau bisa jadi Jokowi? Ahhh... aku YAKIN bukan mereka. Mereka adalah tokoh besar yang sangat berpengaruh bagi bangsa Indonesia tetapi bukan mempengaruhi para generasi muda untuk mengenal dan menggunakan bahasa alay. Bahkan mereka pun bisa jadi tidak pernah tahu dan tidak pernah mengenal bahasa semacam itu yang terdengar sangat aneh dan mungkin juga tidak pernah mereka pahami.
“Ku rasa... programku kali ini cukup terbilang bagus.” Berbicara dalam hati.
1 minggu kemudian...
“Selamat siang Refi. Programmu telah Kakak usulkan kepada pembina OSIS dan hasilnya sangat mengejutkan. Beliau menyetujui dan sangat antusias dengan program kita di bulan Oktober nanti.” Pesan singkat yang ketua OSIS kirimkan kepadaku.
“Selamat siang juga Kak. Yang benar Kak??? Alhamdulillah Kak... terima kasih sudah mengusulkannya kepada pembina OSIS ya Kak. Jadi, kapan nih kita mulai mengkonsep acaranya?” Aku sangat merasa senang sekali.
“Nanti besok lusa kita rapatkan bersama pengurus OSIS yang lainnya ya Ref, sama-sama Kakak juga berterima kasih kepada kamu karena telah mengusulkan program yang sangat spektakuler itu. Hehe...”
Setelah program itu dirapatkan, akhirnya seluruh pengurus OSIS pun setuju akan mengadakan seminar tentang penggunan berbahasa. Tema yang diambil adalah “Bahasa adalah Jati Diri Bangsa”. Rencananya kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada 28 Oktober 2013 yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Dengan mengundang Siswa-siswi SMP/ Sederajat, SMA/ Sederajat, dan tidak lupa siswa-siswi SMA Suka Mulya yang menjadi sasaran utamanya. OSIS SMA Suka Mulya ingin menciptakan generasi muda yang hebat, dan yang tidak kalah keren dengan para pahlawan-pahlawan kita.
Mimpiku menjadi seorang yang hebat seperti Ir. Soekarno menjadi dasar betapa inginnya aku merubah perilaku generasi muda saat ini, sedikit demi sedikit aku yakin akan memberi hasil yang memuaskan. Kutipan Ir. Soekarno “Berikan Aku 10 Pemuda Maka Aku Akan Rubah Dunia” itulah kutipan yang menjadi semangatku. Mungkin saja dengan adanya seminar ini minimalnya 10 generasi muda dapat memperbaiki gaya berbicaranya dengan mengubah BAHASA ALAY menjadi BAHASA INDONESIA yang baik dan benar, baik itu dari segi pengucapan ataupun penulisannya.
Sampailah kepada tanggal 28 Oktober 2013, Aku dan seluruh pengurus OSIS telah mempersiapkan kegiatan ini dengan sangat baik. Peserta yang mengikuti kegiatan ini sangat banyak sekali, mulai dari SMP, MTs, SMA, SMK, MA, dan dari kalangan siswa-siswi SMA Suka Mulya sendiri sangat membeludak dan antusiasme mereka pun sangat tinggi.
Setelah beberapa hari dilaksanakan kegiatan seminar, satu per satu siswa yang menggunakan bahasa alay mulai berkurang. Inilah mimpiku selama ini akhirnya terwujud. Walaupun belum 100%, tetapi aku yakin suatu saat nanti semua generasi bangsa dapat menjadi Pahlawan yang sangat HEBAT apabila mereka dapat menyaring pengaruh dari budaya luar.

0 komentar:

Posting Komentar