menjadi orang yang di butuhkan oleh banyak orang.. :)

AKHIRNYA ALLAH BERKATA, TIDAK!




Di kelas XII jurusan IPA ada 2 orang siswa yang sangat pandai. Mereka adalah Muhammad Ardi yang sering disapa Ardi dan Muhafillah Az-zahra dengan panggilan Fifih. Ardi siswa paling jago di mata pelajaran kimia yang selalu disanjung oleh Pak Dahlan akan kepandaiannya. Sedangkan Fifih tak pernah ia merasa jago di mata pelajaran mana pun. Namun, ia mencoba mempelajari apa yang harus ia pelajari. Semangatnya yang takkan pernah surut untuk mengejar prestasi demi menyandang siswa berprestasi adalah keinginan dan ambisi terbesarnya. Bukan ia mempunyai keinginan untuk menyaingi Ardi, tapi ia hanya ingin mengasah kemampuannya, sampai mana ia mampu berlari?
Di suatu ketika permintaan untuk mewakili sekolah dalam sebuah kompetisi yang ditunggu-tunggu selama 2 tahun lamanya oleh kedua siswa itu akhirnya datang. Namun, hanya satu perwakilan sajalah yang dapat mewakili kompetisi paling bergengsi itu. Ardi dan Fifih pun bersaing ketat, ini yang membuat Fifih bangkit. Ketika ia menginginkan sesuatu maka ia akan bersikeras untuk mewujudkannya. Selepas kegiatan belajar mengajar Fifih tak pernah berhenti untuk melanjutkan pembelajaran di rumah.
Esok hari adalah saatnya testing siswa-siswi calon delegasi yang akan dikirimkan menjadi perwakilan kompetisi bergengsi tersebut. Ada 5 orang yang terpilih dan termasuk keduanya. Di hati Fifih ia sudah punya perkiraan sih, pasti Ardi yang menjadi delegasinya. “Aku gak banyak berharap, hatiku sudah mengatakan Ardilah yang akan menjadi delegasinya, bukan Aku!” Itulah kecemasan yang sedang ia alami malam itu, belajar pun tak tenang dan tak fokus dengan apa yang sedang ia baca dan pahami. Pikiran yang melayang-layang memikirkan siapa yang akan terpilih menjadi topik utama dalam pemikiran otak lugasya itu. Tiba-tiba Fifih pun memegang telepon genggamnya dan mencari kontak HP Ardi. Sebuah pesan singkat pun ia ketik di HP yang modelnya agak jadul. “Assalamu’alaikum, selamat malam Ardi. Di… aku yakin, dan yakin banget kalau kamulah yang bakal mewakili sekolah untuk mengikuti Competition of Chemistry di Bali nanti. Aku percaya sama kamu Ardi, pasti kamu BISA!” itulah suara Fifih untuk merendahkan hatinya. “Wa’alaikumusalam Fifih, aduh… kamu tuh ya, jangan gitu. Ya, kita sama-sama berdoa saja Fih, siapa yang terpilih nanti pasti ia adalah yang terbaik untuk sekolah kita. Percaya deh!” itulah kebijaksanaan Ardi membalas pesan singkat dari Fifih sahabatnya.
Kegelisahan Fifih pun bertambah ketika ia membaca status di akun facebook salah satu calon delegasi kompetisi tersebut, begini ujarnya:
“Ya sudahlah… lihat saja besok siapa yang bakal terpilih jadi perwakilan sekolah untuk mengikuti kompetisi kimia di Bali nanti, PASTI AKU! Kalau bukan aku siapa lagi?? Hahahaaaaa… :-P”.
Belajar pun semakin tak konsen, rasa cemas dan khawatir serta penasaran mengahantui malamnya. Ia semakin tak percaya diri dengan kemampuannya, namun tiba-tiba ada bisikan hati yang mulai mengangkat kembali semangatnya “kamu YAKIN Fih, kamu BISA jangan kalah dengan mereka, ayolah Fih SEMANGAT demi KESUKSESANMU untuk masa depanmu, JANGAN HIRAUKAN orang-orang disekelilingmu yang membuatmu MENYERAH, tapi LIHATLAH orang-orang yang SUKSES yang akan membuatmu BANGKIT! Dirinya sendirilah yang membuatnya semangat kembali untuk belajar bersama malamnya yang hening tak bersuara itu.
Maka tibalah seleksi siswa calon delegasi untuk kompetisi kimia itu, Pak Dahlan tentu telah mempunyai perkiraan, namun tetap saja ia harus melihat hasil tes dari seleksi tersebut.
Beberapa jam kemudian tibalah waktu untuk mengumumkan siapa yang akan mewakili sekolah dalam ajang bergengsi tersebut.
Kelima siswa itu pun berdo’a dengan penuh pengharapan. Pak Dahlan memberikan sebuah amplop kepada masing-masing siswa. Dan ternyata memang benar, walaupun Ardi adalah siswa yang paling disanjung, tapi tetap Fifihlah yang mungkin terbaik dari keempat siswa lainnya. Dialah yang mewakili dalam ajang tersebut, kekecewaan tampak dari raut muka Ardi dan ketiga siswa lain.
Fifih berkompetisi dengan sangat baik dan sangat sungguh-sungguh demi sekolah yang ia cintai, tidak ingin ia sia-siakan kesempatan emas itu.

Pengumuman pun telah berada di hadapan mata, “Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan sekali.” ujarnya. Dengan ucapan Alhamdulillah ternyata Fifih memang tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mendapatkan juara 2, walaupun sedikit kecewa karena ia tak dapat mengalahkan siswa terbaik dari sekolah lain.
Hari demi hari berlalu, Ardi teramat sangat berbeda pada hari itu. Ia menatap wajah Fifih dengan penuh perhatian. Ketika kegiatan belajar mengajar tiba, ia memandang Fifih sambil menulis sebuah puisi indah rangkaiannya. Entah apa yang sedang dirasakan Ardi itu.
“Heyy, Ardi macam apa kamu lihat Fifih begitu sekali, hayo kamu suka ya sama Fifih?” tanya teman sebangkunya.
“Husst… kamu kalau bilang hati-hati, masa iya sih aku suka sama dia, yang benar saja?” jawab Ardi dengan perasaan bingung sendiri. Karena ia sendiri pun tak tahu, ada perasaan apa kepada Fifih? Tetapi ia tak pernah menghiraukan perasaannya itu.
Namun, selepas Ujian Nasional malamnya ia mulai penasaran dengan apa yang dirasakannya, karena memang kenyataannya ia merasakan sesuatu yang berbeda kepada Fifih. Ia membayangkan senyumannya, sapaannya, suaranya, bahkan wajahnya kadang selalu terlintas dalam benaknya.
Ya Allah…
Apa yang sedang aku rasakan kepada sahabatku?
Benarkah aku suka, bahkan cinta kepadanya?
Jika benar, apa yang seharusnya aku lakukan, Ya Rabb..?
Aku tak kuasa jika aku harus menjalin cinta bersamanya, aku akan dikuliahkan di Jerman, sedangkan Fifih? Ia akan bekerja, tak akan kuliah karena ketidakcukupan ekonomi dalam keluarganya.
Jika aku menjalin cinta bersamanya, apa iya Fifih juga mempunyai perasaan yang sama kepadaku? Entahlah…
Aaahhh… apa yang sedang aku bicarakan ini???
Keesokan harinya, ia bertemu dengan Fifih di depan ruang perpustakaan. Lalu Ardi berbincang-bincang denganya.
“Fih, apa benar kamu setelah SMA nanti gak bakal kuliah?” Ardi bertanya basa-basi, padahal ia sudah mengetahui jika Fifih akan bekerja setelah lulus SMA nanti.
“Ko kamu nanya lagi sih Di? Perasaan kamu sudah tahu deh. Hehe.. iyaa, aku bakal langsung bekerja. Kasian ibu, bapakku kalau harus membiayai aku kuliah. Belum untuk asramanya, untuk makannya. Aah... repot!” candaan Fifih ketika menjawab pertanyaan Ardi.
“Hemm.. sayang tuh sama otak, kamu sudah pinter, cantik, baik, rajin masa enggak kuliah sih?” pujian Ardi untuk Fifih seakan-akan ia berharap bisa kuliah bareng.
“Memang kamu orang berada Di, kamu punya segalanya. Sedangkan aku? untuk makan saja kadang tak mencukupi.” Fifih menunduk.
“Aku, berharap kita bisa bersama-sama Fih, ya walaupun kenyataan harus seperti ini. Semoga kamu baik-baik saja ya. Aku menyayangimu.” Ucap Ardi dengan tak sadar bahwa iya mengatakan menyayangi Fifih.
Lalu, Ardi pamitan kepada Fifih karena ia akan meneruskan kuliahnya di Jerman. Perpisahan itu sangat membuat Fifih sedih, karena Ardi adalah sahabat terbaiknya.
Kemudian setelah ini, bagaimanakah perasaan Ardi kepada Fifih? Ia akan memendamnya bersama waktu, dan berharap suatu saat nanti ia akan bertemu dalam keridhoan-Nya.
Ardi menjalankan kuliah dengan baik, prestasi demi prestasi telah ia raih.

4 tahun kemudian…
Hari ini adalah hari wisudanya Ardi, ia berkumpul bersama keluarganya dan tiba-tiba Caroline, bertanya “Hello Ardi, hast du einen freund?” Caroline penasaran siapakah pacar Ardi? Karena Ardi terlihat tak berpacaran.
“Nein Caroline, ich habe nicht enien freund. (sejenak ia terbayang wajah Fifih) Warum fragst du das?” Ardi pun heran, apa maksudnya temannya menanyakan itu?
“Oh nein was, etschuldigung? Hehe…” jawab Caroline.
Setelah selesai kuliah, Ardi kembali ke Jakarta. Ia sangat merindukan sosok Fifih, sahabat lamanya itu. Orang tuanya telah menyiapkan calon istri untuk Ardi, bukan pekerjaan yang orang tuanya siapkan, entah kenapa? Calon istrinya itu adalah putri terpandang keluarga Kraton. Sebenarnya Ardi sempat berontak untuk menikah bersamanya, tetapi demi orang tuanya Ardi menuruti apa mau kedua orang tuanya itu. Undangan pernikahannya pun telah tersebar, ia mencari-cari alamat rumah Fifih untuk memberi kabar bahwa ia akan segera menikah.
Ketika Ardi pergi ke supermarket, sosok Fifih terasa terihat olehnya. Ia mengikuti sosok seseorang yang mirip dengan Fifih. Bukannya iya lupa, tapi maklum saja empat tahun tak bertemu. Wajar saja kalau sekarang ia tak yakin bahwa itu Fifih.
“Assalamu’alaikum mba, maaf mau tanya. Mba ini Muhafillah Az-zahra bukan ya?” keraguan Ardi ketika bertanya sosok wanita itu.
“Wa’alaikumusalam, iya benar Mas siapa ya?” melihat wajah lelaki itu terasa asing baginya.
“Fih ini aku, Ardi sahabatmu semasa SMA.” Berusaha meyakinkan Fifih yang tampaknya mulai lupa dengan sosok Ardi yang dulu sempat menyukainya.
“Ya ampun… ini benar Ardi? Duh… maaf ya Di. Abisnya kamu pangling baget, bagaimana kabarmu Di? Udah lama kita tak bertemu ya.” Jawab Fifih yang mulai ingat semuanya.
“Alhamdulillah aku baik Fih, semoga kamu baik-baik saja Fih. Oh iya Fih, nanti datang ya ke pernikahanku minggu depan.” Ajakan Ardi pada sahabatnya.
“Wahh.. ko tahu-tahu sudah mau menikah saja sih? Iya Insya Allah Di, nanti aku datang.” Fifih menyembunyikan kekecewaannya.
Rasa kecewa yang dirasakan Fifih ternyata membuat ia sangat terpukul mendengar Ardi akan menikah. 4 tahun lamanya ia menunggu Ardi, kata-kata  terakhir Ardi ketika pamitan Aku menyayangimu sesungguhnya ia juga mempunyai perasaan yang sama padanya.
Dua hari lagi pernikahan Ardi dan Anggita, Anggita meminta izin untuk pergi ke tempat rekreasi bersama temannya. Ternyata dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan yang sangat serius. Anggita beserta temannya meninggal ditempat kejadian. Ardi dan keluarganya sangat terpukul karena pernikahannya batal.
Beberapa bulan kemudian, ia kembali mencari Fifih dan ingin menjelaskan tentang perasaan yang dahulu pernah ia katakan dan mence
ritakan kejadian yang telah terjadi kepadanya.
Namun, sayangnya ketika ia sampai di rumah Fifih, pesta pernikahan Fifih pun sedang digelar. Kekecewaan dan penyesalan Ardi pun semakin menjadi-jadi. Depresi yang ia alami menjadikan perilakunya dari hari ke hari semakin aneh. Oleh karena itu, ayahnya memasukan ia ke Rumah Sakit Jiwa. Orang tuanya sangat sedih melihat keadaan Ardi sekarang.

0 komentar:

Posting Komentar