Di
kelas XII jurusan IPA ada 2 orang siswa yang sangat pandai. Mereka adalah
Muhammad Ardi yang sering disapa Ardi dan Muhafillah Az-zahra dengan panggilan
Fifih. Ardi siswa paling jago di mata pelajaran kimia yang selalu disanjung
oleh Pak Dahlan akan kepandaiannya. Sedangkan Fifih tak pernah ia merasa jago
di mata pelajaran mana pun. Namun, ia mencoba mempelajari apa yang harus ia
pelajari. Semangatnya yang takkan pernah surut untuk mengejar prestasi demi
menyandang siswa berprestasi adalah keinginan dan ambisi terbesarnya. Bukan ia
mempunyai keinginan untuk menyaingi Ardi, tapi ia hanya ingin mengasah
kemampuannya, sampai mana ia mampu berlari?
Di
suatu ketika permintaan untuk mewakili sekolah dalam sebuah kompetisi yang
ditunggu-tunggu selama 2 tahun lamanya oleh kedua siswa itu akhirnya datang.
Namun, hanya satu perwakilan sajalah yang dapat mewakili kompetisi paling
bergengsi itu. Ardi dan Fifih pun bersaing ketat, ini yang membuat Fifih
bangkit. Ketika ia menginginkan sesuatu maka ia akan bersikeras untuk
mewujudkannya. Selepas kegiatan belajar mengajar Fifih tak pernah berhenti
untuk melanjutkan pembelajaran di rumah.
Esok
hari adalah saatnya testing siswa-siswi calon delegasi yang akan dikirimkan
menjadi perwakilan kompetisi bergengsi tersebut. Ada 5 orang yang terpilih dan
termasuk keduanya. Di hati Fifih ia sudah punya perkiraan sih, pasti Ardi yang
menjadi delegasinya. “Aku gak banyak berharap, hatiku sudah mengatakan Ardilah
yang akan menjadi delegasinya, bukan Aku!” Itulah kecemasan yang sedang ia
alami malam itu, belajar pun tak tenang dan tak fokus dengan apa yang sedang ia
baca dan pahami. Pikiran yang melayang-layang memikirkan siapa yang akan
terpilih menjadi topik utama dalam pemikiran otak lugasya itu. Tiba-tiba Fifih
pun memegang telepon genggamnya dan mencari kontak HP Ardi. Sebuah pesan
singkat pun ia ketik di HP yang modelnya agak jadul. “Assalamu’alaikum, selamat
malam Ardi. Di… aku yakin, dan yakin banget kalau kamulah yang bakal mewakili
sekolah untuk mengikuti Competition of Chemistry di Bali nanti. Aku percaya
sama kamu Ardi, pasti kamu BISA!” itulah suara Fifih untuk merendahkan hatinya.
“Wa’alaikumusalam Fifih, aduh… kamu tuh ya, jangan gitu. Ya, kita sama-sama
berdoa saja Fih, siapa yang terpilih nanti pasti ia adalah yang terbaik untuk
sekolah kita. Percaya deh!” itulah kebijaksanaan Ardi membalas pesan singkat
dari Fifih sahabatnya.
Kegelisahan
Fifih pun bertambah ketika ia membaca status di akun facebook salah satu calon
delegasi kompetisi tersebut, begini ujarnya:
“Ya
sudahlah… lihat saja besok siapa yang bakal terpilih jadi perwakilan sekolah
untuk mengikuti kompetisi kimia di Bali nanti, PASTI AKU! Kalau bukan aku siapa
lagi?? Hahahaaaaa… :-P”.
Belajar
pun semakin tak konsen, rasa cemas dan khawatir serta penasaran mengahantui
malamnya. Ia semakin tak percaya diri dengan kemampuannya, namun tiba-tiba ada
bisikan hati yang mulai mengangkat kembali semangatnya “kamu YAKIN Fih, kamu
BISA jangan kalah dengan mereka, ayolah Fih SEMANGAT demi KESUKSESANMU untuk
masa depanmu, JANGAN HIRAUKAN orang-orang disekelilingmu yang membuatmu
MENYERAH, tapi LIHATLAH orang-orang yang SUKSES yang akan membuatmu BANGKIT!
Dirinya sendirilah yang membuatnya semangat kembali untuk belajar bersama
malamnya yang hening tak bersuara itu.
Maka
tibalah seleksi siswa calon delegasi untuk kompetisi kimia itu, Pak Dahlan
tentu telah mempunyai perkiraan, namun tetap saja ia harus melihat hasil tes
dari seleksi tersebut.
Beberapa
jam kemudian tibalah waktu untuk mengumumkan siapa yang akan mewakili sekolah
dalam ajang bergengsi tersebut.
Kelima
siswa itu pun berdo’a dengan penuh pengharapan. Pak Dahlan memberikan sebuah
amplop kepada masing-masing siswa. Dan ternyata memang benar, walaupun Ardi
adalah siswa yang paling disanjung, tapi tetap Fifihlah yang mungkin terbaik
dari keempat siswa lainnya. Dialah yang mewakili dalam ajang tersebut,
kekecewaan tampak dari raut muka Ardi dan ketiga siswa lain.
Fifih
berkompetisi dengan sangat baik dan sangat sungguh-sungguh demi sekolah yang ia
cintai, tidak ingin ia sia-siakan kesempatan emas itu.
Pengumuman
pun telah berada di hadapan mata, “Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan
sekali.” ujarnya. Dengan ucapan Alhamdulillah ternyata Fifih memang tak
menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mendapatkan juara 2, walaupun sedikit kecewa
karena ia tak dapat mengalahkan siswa terbaik dari sekolah lain.
Hari
demi hari berlalu, Ardi teramat sangat berbeda pada hari itu. Ia menatap wajah
Fifih dengan penuh perhatian. Ketika kegiatan belajar mengajar tiba, ia
memandang Fifih sambil menulis sebuah puisi indah rangkaiannya. Entah apa yang
sedang dirasakan Ardi itu.
“Heyy,
Ardi macam apa kamu lihat Fifih begitu sekali, hayo kamu suka ya sama Fifih?”
tanya teman sebangkunya.
“Husst…
kamu kalau bilang hati-hati, masa iya sih aku suka sama dia, yang benar saja?”
jawab Ardi dengan perasaan bingung sendiri. Karena ia sendiri pun tak tahu, ada
perasaan apa kepada Fifih? Tetapi ia tak pernah menghiraukan perasaannya itu.
Namun,
selepas Ujian Nasional malamnya ia mulai penasaran dengan apa yang
dirasakannya, karena memang kenyataannya ia merasakan sesuatu yang berbeda
kepada Fifih. Ia membayangkan senyumannya, sapaannya, suaranya, bahkan wajahnya
kadang selalu terlintas dalam benaknya.
Ya Allah…
Apa yang
sedang aku rasakan kepada sahabatku?
Benarkah
aku suka, bahkan cinta kepadanya?
Jika
benar, apa yang seharusnya aku lakukan, Ya Rabb..?
Aku tak
kuasa jika aku harus menjalin cinta bersamanya, aku akan dikuliahkan di Jerman,
sedangkan Fifih? Ia akan bekerja, tak akan kuliah karena ketidakcukupan ekonomi
dalam keluarganya.
Jika aku
menjalin cinta bersamanya, apa iya Fifih juga mempunyai perasaan yang sama
kepadaku? Entahlah…
Aaahhh…
apa yang sedang aku bicarakan ini???
Keesokan
harinya, ia bertemu dengan Fifih di depan ruang perpustakaan. Lalu Ardi
berbincang-bincang denganya.
“Fih, apa
benar kamu setelah SMA nanti gak bakal kuliah?” Ardi bertanya basa-basi,
padahal ia sudah mengetahui jika Fifih akan bekerja setelah lulus SMA nanti.
“Ko kamu
nanya lagi sih Di? Perasaan kamu sudah tahu deh. Hehe.. iyaa, aku bakal
langsung bekerja. Kasian ibu, bapakku kalau harus membiayai aku kuliah. Belum
untuk asramanya, untuk makannya. Aah... repot!” candaan Fifih ketika menjawab
pertanyaan Ardi.
“Hemm..
sayang tuh sama otak, kamu sudah pinter, cantik, baik, rajin masa enggak kuliah
sih?” pujian Ardi untuk Fifih seakan-akan ia berharap bisa kuliah bareng.
“Memang
kamu orang berada Di, kamu punya segalanya. Sedangkan aku? untuk makan saja
kadang tak mencukupi.” Fifih menunduk.
“Aku,
berharap kita bisa bersama-sama Fih, ya walaupun kenyataan harus seperti ini.
Semoga kamu baik-baik saja ya. Aku menyayangimu.” Ucap Ardi dengan tak sadar
bahwa iya mengatakan menyayangi Fifih.
Lalu,
Ardi pamitan kepada Fifih karena ia akan meneruskan kuliahnya di Jerman.
Perpisahan itu sangat membuat Fifih sedih, karena Ardi adalah sahabat
terbaiknya.
Kemudian
setelah ini, bagaimanakah perasaan Ardi kepada Fifih? Ia akan memendamnya
bersama waktu, dan berharap suatu saat nanti ia akan bertemu dalam
keridhoan-Nya.
Ardi
menjalankan kuliah dengan baik, prestasi demi prestasi telah ia raih.
4 tahun kemudian…
Hari
ini adalah hari wisudanya Ardi, ia berkumpul bersama keluarganya dan tiba-tiba
Caroline, bertanya “Hello Ardi, hast du
einen freund?” Caroline penasaran siapakah pacar Ardi? Karena Ardi terlihat
tak berpacaran.
“Nein Caroline, ich habe nicht enien
freund. (sejenak ia
terbayang wajah Fifih) Warum fragst du
das?” Ardi pun heran, apa maksudnya temannya menanyakan itu?
“Oh nein was, etschuldigung? Hehe…” jawab Caroline.
Setelah
selesai kuliah, Ardi kembali ke Jakarta. Ia sangat merindukan sosok Fifih,
sahabat lamanya itu. Orang tuanya telah menyiapkan calon istri untuk Ardi,
bukan pekerjaan yang orang tuanya siapkan, entah kenapa? Calon istrinya itu
adalah putri terpandang keluarga Kraton. Sebenarnya Ardi sempat berontak untuk
menikah bersamanya, tetapi demi orang tuanya Ardi menuruti apa mau kedua orang
tuanya itu. Undangan pernikahannya pun telah tersebar, ia mencari-cari alamat
rumah Fifih untuk memberi kabar bahwa ia akan segera menikah.
Ketika
Ardi pergi ke supermarket, sosok Fifih terasa terihat olehnya. Ia mengikuti
sosok seseorang yang mirip dengan Fifih. Bukannya iya lupa, tapi maklum saja
empat tahun tak bertemu. Wajar saja kalau sekarang ia tak yakin bahwa itu
Fifih.
“Assalamu’alaikum
mba, maaf mau tanya. Mba ini Muhafillah Az-zahra bukan ya?” keraguan Ardi
ketika bertanya sosok wanita itu.
“Wa’alaikumusalam,
iya benar Mas siapa ya?” melihat wajah lelaki itu terasa asing baginya.
“Fih ini
aku, Ardi sahabatmu semasa SMA.” Berusaha meyakinkan Fifih yang tampaknya mulai
lupa dengan sosok Ardi yang dulu sempat menyukainya.
“Ya
ampun… ini benar Ardi? Duh… maaf ya Di. Abisnya kamu pangling baget, bagaimana
kabarmu Di? Udah lama kita tak bertemu ya.” Jawab Fifih yang mulai ingat
semuanya.
“Alhamdulillah
aku baik Fih, semoga kamu baik-baik saja Fih. Oh iya Fih, nanti datang ya ke
pernikahanku minggu depan.” Ajakan Ardi pada sahabatnya.
“Wahh..
ko tahu-tahu sudah mau menikah saja sih? Iya Insya Allah Di, nanti aku datang.”
Fifih menyembunyikan kekecewaannya.
Rasa
kecewa yang dirasakan Fifih ternyata membuat ia sangat terpukul mendengar Ardi
akan menikah. 4 tahun lamanya ia menunggu Ardi, kata-kata terakhir Ardi ketika pamitan Aku menyayangimu sesungguhnya ia juga
mempunyai perasaan yang sama padanya.
Dua
hari lagi pernikahan Ardi dan Anggita, Anggita meminta izin untuk pergi ke
tempat rekreasi bersama temannya. Ternyata dalam perjalanan ia mengalami
kecelakaan yang sangat serius. Anggita beserta temannya meninggal ditempat
kejadian. Ardi dan keluarganya sangat terpukul karena pernikahannya batal.
Beberapa
bulan kemudian, ia kembali mencari Fifih dan ingin menjelaskan tentang perasaan
yang dahulu pernah ia katakan dan mence
ritakan
kejadian yang telah terjadi kepadanya.
Namun,
sayangnya ketika ia sampai di rumah Fifih, pesta pernikahan Fifih pun sedang
digelar. Kekecewaan dan penyesalan Ardi pun semakin menjadi-jadi. Depresi yang
ia alami menjadikan perilakunya dari hari ke hari semakin aneh. Oleh karena
itu, ayahnya memasukan ia ke Rumah Sakit Jiwa. Orang tuanya sangat sedih
melihat keadaan Ardi sekarang.

0 komentar:
Posting Komentar