Bagi kebanyakan orang liburan itu diisi oleh kegiatan mudik dari kampung ke kota-kota besar ataupun sebaliknya, jalan-jalan ke tempat rekreasi, piknik bersama keluarga, atau jalan-jalan dengan pacarnya. Tapi ternyata tidak, untuk seorang remaja bernama Wati, ia memanfaatkan waktu liburan sekolah selama 3 minggu itu dengan teman-temannya untuk mengepul buah melinjo di kebun. Maklum saja, ia hanya tinggal bersama ibu dan seorang adiknya. Ayahnya meninggal ketika ia duduk di bangku SD. Ya… untuk membantu ekonomi ibunya ia setiap libur kegiatannya seperti itu. Ia jauh sekali dengan yang namanya bermain ke tempat rekreasi. Ibunya yang hanya seorang kuli cuci pakaian atau kadang seorang tukang masak apabila ada tetangganya yang membutuhkan tenaganya. Hidup di sebuah perkampungan yang masih jauh dari keramaian dan dekat sekali dengan hutan mereka sangat menikmatinya. Karena disitulah penghasilan sehari-harinya ia dapatkan. Allah pasti telah menyiapkan segalanya apa yang makhluknya butuhkan. Tak tekecuali Wati yang mungkin membutuhkan kebahagiaan, merasakan bermain dan berlibur seperti anak-anak lain seusianya.
“Dek, kalau main kemana saja? Kan desa adek jauh dari keramaian.” Silvia bertanya padanya.
“Hmm… teteh, Wati mah enggak main jauh-jauh. Paling cuma disini aja, sama teman-teman dekat rumah.” Jawaban singkat Wati.
“Kalau teteh boleh tahu, adek sekarang kelas berapa?” keingintauan Silvia lebih jauh tentang remaja itu.
“Sekarang Wati kelas VIII teh. Memangnya kenapa?” Wati penasaran dengan semua pertanyaan Silvia.
“Tidak kenapa-kenapa dek, oh iya… apakah adek pernah makan Pizza, atau pun KFC mungkin?” tanya Silvia kembali.
“Hahaha…” tiba-tiba Wati tertawa dengan pertanyaan Silvia
“Kenapa dek, ko kamu malah tertawa. Ada yang salah dengan pertanyaan teteh?” Silvia heran dengan Wati.
“Ya… habisnya teteh bertanyanya aneh. Apa itu Pizza dan KFC teh? Aku baru mendengarnya. Lagian makanan itu disini mah gak ada teh. Jadi aku gak pernah makan yang kaya gituan.” Penjelasan Wati dengan ketidaktahuannya.
“Ya Allah kamu dek, kamu gak tahu makanan itu? Nanti deh kapan-kapan kita makan makanan itu ya dek.” Rasa iba Silvia kepada Wati.
“Jangan repot-repot teh, Wati lebih baik makan sama urap genjer.” Tolakan Wati pada ajakan Silvia.
“Aduuuuh… apa itu urap genjer Wati? malah sekarang teteh yang gak tahu.” Kembali Silvia bertanya, karena makanan itu terdengar asing baginya.
“Udah, teteh gak usah tahu makanan itu. Makanan itu makanan kampung, teteh mah gadis kota teh jangan mengenal makanan yang kaya gitu. Nanti kalau teteh mencobanya takut ketagihan. Karena di kota gak ada makanan kaya gituan teh, hehe…” celenehan Wati kepada Silvia.
Bagi Wati tak mengenal Pizza, KFC dan semacamnya tak merasa rugi. Karena ia memang sadar, ketidakcukupan ekonominya membuat ia mandiri. Ia berbeda dengan remaja seusianya yang kalau makan ia tinggal pergi ke restaurant, ke rumah makan terkenal, atau ke cafe-cafe besar. Untuknya, hanya masuk sesuap nasi pun sudah cukup. Tak usah yang mahal, yang penting perutnya merasa kenyang dan nutrisinya cukup terpenuhi. Asal ia dapat membantu orang tuanya bekerja, dan badanya kuat ketika ia mencari uang. Sungguh, ia adalah remaja hebat yang Silvia temukan sekarang ini. Ia dapat belajar mandiri dari kesederhanaan Wati.
Ibunya sangat merasa sedih ketika ia sedang menonton TV kemudian ada berita mengenai tempat rekreasi yang cocok untuk keluarga. Orang tua berbondong-bondong membawa anaknya ke kebun binatang, ke kolam renang atau tempat-tempat yang lain. Karena ia tak bisa membawa kedua anaknya berlibur ketempat tersebut. Namun, untuk Teh Kini ibunya Wati, ia hanya dapat mengajarkan kepada anaknya bagaimana susahnya mencari uang, bagaimana cara mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Mungkin mereka yang disana punya banyak uang, tapi Teh Kini dan Wati hanya memiliki kesederhanaan yang akan menjadikan mereka istimewa. Karena belum tentu yang banyak uang merasakan keberkahan dan kenikmatan serta menjadikan mereka istimewa.
Kadangkala Wati pun merasa iri dengan teman-teman seusianya ketika apa yang mereka rasakan tidak pernah ia rasakan. Namun, ia berfikir kapan mereka yang disana dapat sepertinya? Yang hidup sederhana namun istimewa.
Ketika bulan ramadhan tiba, ia menyambut gembira bulan yang penuh berkah itu. Bulan dimana ia dapat berlomba-lomba dalam kebaikan dan mencari ridho Illahi. Ia terus membaktikan dirinya kepada orang tuanya, tak pernah ia membantah perintah ibunya.
Tetangga disekitar rumahnya sangatlah prihatin dengan kehidupan keluarga Teh Kini, apalagi dengan masa depan kedua anaknya. Terutamanya pendidikan mereka nanti, mau jadi apa mereka? Nanti kehidupannya bagaimana? Rasa iba dan rasa perhatian tetangganya sangat besar. Sekali-kali mereka diberikan uang jajan, diberikan makanan, dan lain sebagainya.
“Neng Wati kanggo tuang ke buka puasa atos aya teu acan? Ieu Bibi atos ngadamel sayur asem.” Tetangganya bertanya kepada Wati, makanan untuk buka puasa sudah ada belum? ia sudah membuat sayur asem.
“Oh, teu acan Bi. Wati mah kumaha ibu wae. Rencang tuangna kanggo naon wae geh wios” Wati menjawab belum, ia menyerahkan semuanya kepada ibunya. Karena pasti ia akan menerima dan memakan makanan yang sudah ibunya siapkan itu.
“Oh muhun atuh neng, bilih bade tuang teras teu aya dahareunana mah dongkap wae ka rompok Bibi nya neng?” Tawaran tetangganya untuk mengajak makan bersama di rumah kecilnya.
“Muhun hatur nuhun Bi.” Ucapan terima kasih yang tak lupa Wati sampaikan kepada tetangganya yang baik itu.
Tetapi, Teh Kini tak ingin merepotkan tetangganya. Ia lebih baik makan alakadarnya yang ada di rumah bersama kedua anaknya. Walaupun begitu, kedua anaknya tak pernah mengeluh dengan apa yang telah disediakan oleh ibunya tersayang. Berbuka hanya dengan segelas teh manis dan sepiring gorengan mereka rasa sudah cukup untuk memenuhi dahaga yang hilang sekitar 12 jam mereka berpuasa. Setelah shalat terawih mereka mengisi lagi perut mereka dengan sepiring bertiga. Makan terasa nikmat menurut mereka, walaupun makananya sedikit tapi kalau bersama-sama akan terasa kenyang. Menurut mereka pula, dibandingkan dengan orang-orang yang berada di sana. Rumah besar, makanan enak dan banyak tetapi anggota keluarganya hanya 2 orang itu mungkin tak senikmat keluarga kecil Teh Kini.
Ketika akhir bulan ramadhan, dimana orang-orang masak makanan yang enak-enak, entah itu opor ayam, rendang, ketupat dan lain sebagainya. Teh Kini hanya membuat urap genjer, lalab dan sambel. Walaupun mereka pada saat lebaran-lebaran tahun lalu memakan makanan itu, pasti saja dikasih oleh tetangganya. Karena tetangganya sangat peduli dan perhatian pada keluarga Teh Kini.
Tatanan daerah Sunda yang sangat ramah tampak terlihat sekali di daerah tersebut. Keramahan Teh Kini dan seluruh warga desa tersebut tak aneh lagi. Saling memberi dan saling menolong selalu dilakukan oleh warga 1 dengan yang lainnya.
Disamping masak-masak juga Teh Kini selalu ziarah ke kuburan suaminya. Ia selalu mengirimkan do’a kepada suaminya. Anak-anaknya kadang merasakan rindu yang mendalam ketika malam takbiran orang-orang sekelilingnya berkumpul dengan keluarganya bahkan melaksanakan takbiran keliling desanya. Tetapi mereka hanya kumpul bertiga saja. Ketika shalat sedang Wati laksanakan terkadang ia menangis teringat bapaknya yang sudah tiada beberapa tahun yang silam.
Saat hari raya idul Fitri datang, Wati dan adiknya setelah melaksanakan shalat Id’ bersama ibunya di Mesjid, mereka bermaaf-maafan. Lagi-lagi merekan menangis, tak dapat lagi merasakan kehalusan tangan bapaknya ketika ia bersalaman.
“Bu, neng nuhun dihampura tina sagala kalepatan neng, kapungkur mah aya bapak neng the nuhun pangampura ka bapak, ibu sareng otong. Mung ayeuna mah teu aya bapak nya bu, neng sono ka bapak L” Wati minta maaf kepada ibunya dan mengingat suasana ketika ada bapaknya.
“Muhun neng, ibu ngahampura neng, tos neng tos da bapak tos teu aya. Ibu geh sono ka bapak teh neng.” Ibunya telah memaafkan Wati, dan juga ia pun merindukan suaminya, pasti!
Namun, sekarang yang terpenting bagi mereka mengirimkan do’a untuk bapaknya itu yang diutamakan. Walau bagaimana pun bapaknya takkan pernah kembali. Allah selalu sayang sama mereka, sehingga dengan kesederhanaan mereka selalu merasa bahagia.

0 komentar:
Posting Komentar