menjadi orang yang di butuhkan oleh banyak orang.. :)




Di kelas XII jurusan IPA ada 2 orang siswa yang sangat pandai. Mereka adalah Muhammad Ardi yang sering disapa Ardi dan Muhafillah Az-zahra dengan panggilan Fifih. Ardi siswa paling jago di mata pelajaran kimia yang selalu disanjung oleh Pak Dahlan akan kepandaiannya. Sedangkan Fifih tak pernah ia merasa jago di mata pelajaran mana pun. Namun, ia mencoba mempelajari apa yang harus ia pelajari. Semangatnya yang takkan pernah surut untuk mengejar prestasi demi menyandang siswa berprestasi adalah keinginan dan ambisi terbesarnya. Bukan ia mempunyai keinginan untuk menyaingi Ardi, tapi ia hanya ingin mengasah kemampuannya, sampai mana ia mampu berlari?
Di suatu ketika permintaan untuk mewakili sekolah dalam sebuah kompetisi yang ditunggu-tunggu selama 2 tahun lamanya oleh kedua siswa itu akhirnya datang. Namun, hanya satu perwakilan sajalah yang dapat mewakili kompetisi paling bergengsi itu. Ardi dan Fifih pun bersaing ketat, ini yang membuat Fifih bangkit. Ketika ia menginginkan sesuatu maka ia akan bersikeras untuk mewujudkannya. Selepas kegiatan belajar mengajar Fifih tak pernah berhenti untuk melanjutkan pembelajaran di rumah.
Esok hari adalah saatnya testing siswa-siswi calon delegasi yang akan dikirimkan menjadi perwakilan kompetisi bergengsi tersebut. Ada 5 orang yang terpilih dan termasuk keduanya. Di hati Fifih ia sudah punya perkiraan sih, pasti Ardi yang menjadi delegasinya. “Aku gak banyak berharap, hatiku sudah mengatakan Ardilah yang akan menjadi delegasinya, bukan Aku!” Itulah kecemasan yang sedang ia alami malam itu, belajar pun tak tenang dan tak fokus dengan apa yang sedang ia baca dan pahami. Pikiran yang melayang-layang memikirkan siapa yang akan terpilih menjadi topik utama dalam pemikiran otak lugasya itu. Tiba-tiba Fifih pun memegang telepon genggamnya dan mencari kontak HP Ardi. Sebuah pesan singkat pun ia ketik di HP yang modelnya agak jadul. “Assalamu’alaikum, selamat malam Ardi. Di… aku yakin, dan yakin banget kalau kamulah yang bakal mewakili sekolah untuk mengikuti Competition of Chemistry di Bali nanti. Aku percaya sama kamu Ardi, pasti kamu BISA!” itulah suara Fifih untuk merendahkan hatinya. “Wa’alaikumusalam Fifih, aduh… kamu tuh ya, jangan gitu. Ya, kita sama-sama berdoa saja Fih, siapa yang terpilih nanti pasti ia adalah yang terbaik untuk sekolah kita. Percaya deh!” itulah kebijaksanaan Ardi membalas pesan singkat dari Fifih sahabatnya.
Kegelisahan Fifih pun bertambah ketika ia membaca status di akun facebook salah satu calon delegasi kompetisi tersebut, begini ujarnya:
“Ya sudahlah… lihat saja besok siapa yang bakal terpilih jadi perwakilan sekolah untuk mengikuti kompetisi kimia di Bali nanti, PASTI AKU! Kalau bukan aku siapa lagi?? Hahahaaaaa… :-P”.
Belajar pun semakin tak konsen, rasa cemas dan khawatir serta penasaran mengahantui malamnya. Ia semakin tak percaya diri dengan kemampuannya, namun tiba-tiba ada bisikan hati yang mulai mengangkat kembali semangatnya “kamu YAKIN Fih, kamu BISA jangan kalah dengan mereka, ayolah Fih SEMANGAT demi KESUKSESANMU untuk masa depanmu, JANGAN HIRAUKAN orang-orang disekelilingmu yang membuatmu MENYERAH, tapi LIHATLAH orang-orang yang SUKSES yang akan membuatmu BANGKIT! Dirinya sendirilah yang membuatnya semangat kembali untuk belajar bersama malamnya yang hening tak bersuara itu.
Maka tibalah seleksi siswa calon delegasi untuk kompetisi kimia itu, Pak Dahlan tentu telah mempunyai perkiraan, namun tetap saja ia harus melihat hasil tes dari seleksi tersebut.
Beberapa jam kemudian tibalah waktu untuk mengumumkan siapa yang akan mewakili sekolah dalam ajang bergengsi tersebut.
Kelima siswa itu pun berdo’a dengan penuh pengharapan. Pak Dahlan memberikan sebuah amplop kepada masing-masing siswa. Dan ternyata memang benar, walaupun Ardi adalah siswa yang paling disanjung, tapi tetap Fifihlah yang mungkin terbaik dari keempat siswa lainnya. Dialah yang mewakili dalam ajang tersebut, kekecewaan tampak dari raut muka Ardi dan ketiga siswa lain.
Fifih berkompetisi dengan sangat baik dan sangat sungguh-sungguh demi sekolah yang ia cintai, tidak ingin ia sia-siakan kesempatan emas itu.


Bagi kebanyakan orang liburan itu diisi oleh kegiatan mudik dari kampung ke kota-kota besar ataupun sebaliknya, jalan-jalan ke tempat rekreasi, piknik bersama keluarga, atau jalan-jalan dengan pacarnya. Tapi ternyata tidak, untuk seorang remaja bernama Wati, ia memanfaatkan waktu liburan sekolah selama 3 minggu itu dengan teman-temannya untuk mengepul buah melinjo di kebun. Maklum saja, ia hanya tinggal bersama ibu dan seorang adiknya. Ayahnya meninggal ketika ia duduk di bangku SD. Ya… untuk membantu ekonomi ibunya ia setiap libur kegiatannya seperti itu. Ia jauh sekali dengan yang namanya bermain ke tempat rekreasi. Ibunya yang hanya seorang kuli cuci pakaian atau kadang seorang tukang masak apabila ada tetangganya yang membutuhkan tenaganya. Hidup di sebuah perkampungan yang masih jauh dari keramaian dan dekat sekali dengan hutan mereka sangat menikmatinya. Karena disitulah penghasilan sehari-harinya ia dapatkan. Allah pasti telah menyiapkan segalanya apa yang makhluknya butuhkan. Tak tekecuali Wati yang mungkin membutuhkan kebahagiaan, merasakan bermain dan berlibur seperti anak-anak lain seusianya.
“Dek, kalau main kemana saja? Kan desa adek jauh dari keramaian.” Silvia bertanya padanya.
“Hmm… teteh, Wati mah enggak main jauh-jauh. Paling cuma disini aja, sama teman-teman dekat rumah.” Jawaban singkat Wati.
“Kalau teteh boleh tahu, adek sekarang kelas berapa?” keingintauan Silvia lebih jauh tentang remaja itu.
“Sekarang Wati kelas VIII teh. Memangnya kenapa?” Wati penasaran dengan semua pertanyaan Silvia.
“Tidak kenapa-kenapa dek, oh iya… apakah adek pernah makan Pizza, atau pun KFC mungkin?” tanya Silvia kembali.
“Hahaha…” tiba-tiba Wati tertawa dengan pertanyaan Silvia
“Kenapa dek, ko kamu malah tertawa. Ada yang salah dengan pertanyaan teteh?” Silvia heran dengan Wati.
“Ya… habisnya teteh bertanyanya aneh. Apa itu Pizza dan KFC teh? Aku baru mendengarnya. Lagian makanan itu disini mah gak ada teh. Jadi aku gak pernah makan yang kaya gituan.” Penjelasan Wati dengan ketidaktahuannya.
“Ya Allah kamu dek, kamu gak tahu makanan itu? Nanti deh kapan-kapan kita makan makanan itu ya dek.” Rasa iba Silvia kepada Wati.
“Jangan repot-repot teh, Wati lebih baik makan sama urap genjer.” Tolakan Wati pada ajakan Silvia.
“Aduuuuh… apa itu urap genjer Wati? malah sekarang teteh yang gak tahu.” Kembali Silvia bertanya, karena makanan itu terdengar asing baginya.
“Udah, teteh gak usah tahu makanan itu. Makanan itu makanan kampung, teteh mah gadis kota teh jangan mengenal makanan yang kaya gitu. Nanti kalau teteh mencobanya takut ketagihan. Karena di kota gak ada makanan kaya gituan teh, hehe…” celenehan Wati kepada Silvia.
Bagi Wati tak mengenal Pizza, KFC dan semacamnya tak merasa rugi. Karena ia memang sadar, ketidakcukupan ekonominya membuat ia mandiri. Ia berbeda dengan remaja seusianya yang kalau makan ia tinggal pergi ke restaurant, ke rumah makan terkenal, atau ke cafe-cafe besar. Untuknya, hanya masuk sesuap nasi pun sudah cukup. Tak usah yang mahal, yang penting perutnya merasa kenyang dan nutrisinya cukup terpenuhi. Asal ia dapat membantu orang tuanya bekerja, dan badanya kuat ketika ia mencari uang. Sungguh, ia adalah remaja hebat yang Silvia temukan sekarang ini. Ia dapat belajar mandiri dari kesederhanaan Wati.
Ibunya sangat merasa sedih ketika ia sedang menonton TV kemudian ada berita mengenai tempat rekreasi yang cocok untuk keluarga. Orang tua berbondong-bondong membawa anaknya ke kebun binatang, ke kolam renang atau tempat-tempat yang lain. Karena ia tak bisa membawa kedua anaknya berlibur ketempat tersebut. Namun, untuk Teh Kini ibunya Wati, ia hanya dapat mengajarkan kepada anaknya bagaimana susahnya mencari uang, bagaimana cara mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Mungkin mereka yang disana punya banyak uang, tapi Teh Kini dan Wati hanya memiliki kesederhanaan yang akan menjadikan mereka istimewa. Karena belum tentu yang banyak uang merasakan keberkahan dan kenikmatan serta menjadikan mereka istimewa.
Kadangkala Wati pun merasa iri dengan teman-teman seusianya ketika apa yang mereka rasakan tidak pernah ia rasakan. Namun, ia berfikir kapan mereka yang disana  dapat sepertinya? Yang hidup sederhana namun istimewa.
Ketika bulan ramadhan tiba, ia menyambut gembira bulan yang penuh berkah itu. Bulan dimana ia dapat berlomba-lomba dalam kebaikan dan mencari ridho Illahi. Ia terus membaktikan dirinya kepada orang tuanya, tak pernah ia membantah perintah ibunya.
Tetangga disekitar rumahnya sangatlah prihatin dengan kehidupan keluarga Teh Kini, apalagi dengan masa depan kedua anaknya. Terutamanya pendidikan mereka nanti, mau jadi apa mereka? Nanti kehidupannya bagaimana? Rasa iba dan rasa perhatian tetangganya sangat besar. Sekali-kali mereka diberikan uang jajan, diberikan makanan, dan lain sebagainya.
“Neng Wati kanggo tuang ke buka puasa atos aya teu acan? Ieu Bibi atos ngadamel sayur asem.” Tetangganya bertanya kepada Wati, makanan untuk buka puasa sudah ada belum? ia sudah membuat sayur asem.
“Oh, teu acan Bi. Wati mah kumaha ibu wae. Rencang tuangna kanggo naon wae geh wios” Wati menjawab belum, ia menyerahkan semuanya kepada ibunya. Karena pasti ia akan menerima dan memakan makanan yang sudah ibunya siapkan itu.
“Oh muhun atuh neng, bilih bade tuang teras teu aya dahareunana mah dongkap wae ka rompok Bibi nya neng?” Tawaran tetangganya untuk mengajak makan bersama di rumah kecilnya.
“Muhun hatur nuhun Bi.” Ucapan terima kasih yang tak lupa Wati sampaikan kepada tetangganya yang baik itu.
            Tetapi, Teh Kini tak ingin merepotkan tetangganya. Ia lebih baik makan alakadarnya yang ada di rumah bersama kedua anaknya. Walaupun begitu, kedua anaknya tak pernah mengeluh dengan apa yang telah disediakan oleh ibunya tersayang. Berbuka hanya dengan segelas teh manis dan sepiring gorengan mereka rasa sudah cukup untuk memenuhi dahaga yang hilang sekitar 12 jam mereka berpuasa. Setelah shalat terawih mereka mengisi lagi perut mereka dengan sepiring bertiga. Makan terasa nikmat menurut mereka, walaupun makananya sedikit tapi kalau bersama-sama akan terasa kenyang. Menurut mereka pula, dibandingkan dengan orang-orang yang berada di sana. Rumah besar, makanan enak dan banyak tetapi anggota keluarganya hanya 2 orang itu mungkin tak senikmat keluarga kecil Teh Kini.
            Ketika akhir bulan ramadhan, dimana orang-orang masak makanan yang enak-enak, entah itu opor ayam, rendang, ketupat dan lain sebagainya. Teh Kini hanya membuat urap genjer, lalab dan sambel. Walaupun mereka pada saat lebaran-lebaran tahun lalu memakan makanan itu, pasti saja dikasih oleh tetangganya. Karena tetangganya sangat peduli dan perhatian pada keluarga Teh Kini.
            Tatanan daerah Sunda yang sangat ramah tampak terlihat sekali di daerah tersebut. Keramahan Teh Kini dan seluruh warga desa tersebut tak aneh lagi. Saling memberi dan saling menolong selalu dilakukan oleh warga 1 dengan yang lainnya.
            Disamping masak-masak juga Teh Kini selalu ziarah ke kuburan suaminya. Ia selalu mengirimkan do’a kepada suaminya. Anak-anaknya kadang merasakan rindu yang mendalam ketika malam takbiran orang-orang sekelilingnya berkumpul dengan keluarganya bahkan melaksanakan takbiran keliling desanya. Tetapi mereka hanya kumpul bertiga saja. Ketika shalat sedang Wati laksanakan terkadang ia menangis teringat bapaknya yang sudah tiada beberapa tahun yang silam.
            Saat hari raya idul Fitri datang, Wati dan adiknya setelah melaksanakan shalat Id’ bersama ibunya di Mesjid, mereka bermaaf-maafan. Lagi-lagi merekan menangis, tak dapat lagi merasakan kehalusan tangan bapaknya ketika ia bersalaman.
“Bu, neng  nuhun dihampura tina sagala kalepatan neng, kapungkur mah aya bapak neng the nuhun pangampura ka bapak, ibu sareng otong. Mung ayeuna mah teu aya bapak nya bu, neng sono ka bapak L Wati minta maaf kepada ibunya dan mengingat suasana ketika ada bapaknya.
“Muhun  neng, ibu ngahampura neng, tos neng tos da bapak tos teu aya. Ibu geh sono ka bapak teh neng.” Ibunya telah memaafkan Wati, dan juga ia pun merindukan suaminya, pasti!
            Namun, sekarang yang terpenting bagi mereka mengirimkan do’a untuk bapaknya itu yang diutamakan. Walau bagaimana pun bapaknya takkan pernah kembali. Allah selalu sayang sama mereka, sehingga dengan kesederhanaan mereka selalu merasa bahagia.

Namaku Fitria Suartini, saat ini aku duduk di bangku kelas XII IPA 2 SMAN 1 MANDIRANCAN, Kuningan, Jawa Barat. Aku kelahiran Kuningan, 3 Maret 1996, tinggal bersama Bapak, Ibu, dan Rama adikku di Dusun Kliwon RT/RW : 21/05 Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat.
Ketika SD aku bersekolah di SDN 2 Pasawahan. Ketika SD aku mengikuti Ekskul Pramuka, suka ikut berkemah mewakili sekolah, dll. Disini pula aku bersaing ketat bersama 41 siswa lainnya, dan Alhamdulillah selalu masuk 5 besar, dan 3 besar.  Aku juga pernah mengikuti Lomba Bidang Study, yaitu mengikuti Lomba Mengarang yang Alhamdulillah pula mendapatkan Juara 1 se-Kecamatan Pasawahan. Banyak pengalaman yang didapatkan ketika sekolah di SDN 2 Pasawahan.
Setelah itu lulus SD aku merasakan bingung, bapakku menyarankan sekolah ke Pesantren yang ada di daerah Cirebon. Aku sampai-sampai konsultasi sama guru Agama ku di SD.
“Bu, kumaha ieu bu? Kan FiFit hoyong sakola di Pasantren. Tapi, tos meser acuk seragam SMP na bu? Kebingungan aku yang aku utarakan.
“Atuh gampil Fit, acuk anu tos dipeserna diical deui kanu sanes. Itu putra ibu geh nuju pasantren di Cilimus Fit. Biayana sakitu mah mirah, soklah cobiah Fit teraskeun ka pasantren.” Itulah saran yang diberikan oleh guru Agama aku.
            Setelah itu aku bicara baik-baik pada orang tua ku. “Mah, FiFit sakolana diteraskeun ka Pasantren wae nya?????” Aku coba merayu mamah. “Tos lah sakolana di nu cakeut wae, di SMP tong tebih-tebih ka pasantren.” Itu tolakan mamah yang membuatku menundukkan kepala. “Muhun ka pasantren wae sakolana nyah di Ciwaringin-Cirebon.” Dukungan bapak untukku. “Tos deuh, mamahna teu tegah ka FiFitna. Tong tebih-tebih sakolana pokokna mah di SMPN 1 Pasawahan wae.” Keputusan mamah tak dapat dirubah lagi rupanya.
Okehlah untuk itu aku coba untuk melanjutkan sekolah di SMPN 1 Pasawahan, disana aku sangat senang sekali karena belajar banyak hal. Waktu aku kelas 7A itu memilih mengikuti kegiatan OSIS, dan Marching Band. OSIS membuat aku dewasa, masuk dalam SEKBID 3. Kemudian ditahun berikutnya, tepatnya ketika duduk di bangku kelas 8A aku menjabat sebagai Ketua OSIS Periode 2009/2010 SMPN 1 Pasawahan. Disini pula aku mulai banyak merangkul banyak pengalaman. Ketika menjadi ketua osis juga aku pernah mengikuti kegiatan SIBENAR (Siswa Bebas Narkoba) se-Kabupaten Kuningan yang di hadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat (Pak Dede Yusuf) bersama 3 orang rekan lainnya yaitu Nur Ilman, Yuyun Yunani dan Dede Saepul.
Bersama Nur Ilman, dan Faisal Bachtiar Priatna  rekan kerjaku (Wakil Ketua OSIS 1 dan 2) bekerjasama untuk menciptakan OSIS yang aktif da dapat membawa nama SMP tercinta menjadi lebih baik lagi. SMPN 1 Pasawahan yang telah menyandang gelar Sekolah Berbudaya Lingkungan membuat sekolah kita ini sering dikunjungi oleh sekolah-sekolah lain dari luar daerah nan jauh disana. Dari Sulawesi, DPR Pusat, dan kota-kota besar lainnya tak kunjung sepi mendatangi sekolah kita. Diikuti oleh gelar Sekolah Adiwiyata yang diraih oleh SMP aku ini turut membanggakan semua civitas akademika SMPN 1 Pasawahan tercinta. Ditambah waktu itu SMPN 1 Pasawahan ini pernah masuk dalam Program Televisi Global TV yaitu Sekolahku. Dalam tayangan ini semua kegiatan yang ada di sekolahku ditayangkan, termasuk disitu ada akunya juga lohhh…. Hehe…
Benyak pengalaman dan pelajaran yang didapatkan oleh kami semua, khususnya aku sendiri. Alhamdulillah pula, mungkin bisa dikatakan inilah masa jaya aku pada saat SMP, aku pernah tayang di TV, dapat mengikuti kegiatan OSIS, mengikuti Olimpiade, mengikuti ekskul Merching Band dan Paskibra, mendapatkan juara di kelas, juara paralel dan juara umum. Banyak hal yang aku baru dapatkan semasa SMP, teman-teman yang baik, guru-guru yang friendly, lingkungan yang bersih dan nyaman. Kemudian selepas aku lulus SMP rasa galau, bimbang, bingung dalam memilih SMA terbaik untukku.
Ketika itu Wakasek Kesiswaan menyarankan kepadaku untuk masuk SMAN 1 Sumber, karena untuk menambah wawasan yag lebih luas, pengetahuan yang lebih banyak. Aku telah memperjuangkannya untuk sekolah disana.
“Pak, Mah FiFit palay sakola di SMAN 1 Sumber, supados kenging pengalaman nu leuwih sae.” Rayuan aku kepada bapak dan mamah.
“Fit, ari bapak mah sok wae kumaha FiFit. Insya Alloh rezeki mah gampil nuhun ka Alloh tinggal dipilarian wae. Nya sugan si bapak na cageur sareng sehat ambi tiasa ngabiayaan FiFit sakola di Sumber.” Bapak menunjukan dukungannya untukku.
“Yeuh Fit, mun bade nyandak keputusan teh dipikirkeun heula sisi positif sareng negatifna. Nya muhun, FiFit kenging pengalaman anu leuwih ti nu sanes. Mung, cobi ku FiFit dipikirkeun mun hujan uihna kumaha? Mun teu aya angkot kumaha? Pan teu gaduh kandaraan FiFitna. Nya muhun da cuaca teh teu panas wae teu hujan wae. Mung kedah nyandak papaitna, kaayaan urang moal salamina aya diluhur moal salamina aya dihandap. Pasti muterlah, emutkeun kadinya!” Nasehat mamah yang amat panjang dan berharga.
“Nya entos atuh mah teu nanaon di SMAN 1 Cilimus wae kumaha? Saran aku yang kedua.
“Nya mangga wae kumaha FiFit sakola mah, asal si bapak na aya rezeki kanggo ngabiayaan.” Jawaban bapak.
“Sok yeuh ku mamah dipasihan pilihan. Mamah mah masihan pilihan kanggo FiFit sakola sok. Sok hoyong di SMAN 1 Pasawahan atawa di SMAN 1 Mandirancan????”itulah pilihan mamah.
            Aku mulai berpikir ulang, mulai mematangkan pilihan dan keputusan. Mencoba shalat malam, dan mohon petunjuk dari Allah untuk dikasih sekolah yang memang terbaik untukku kelak.
            Waktu itu adalah bulan April, kira-kira tanggal 13 aku iseng-iseng menanyakan formulir pendaftaran masuk SMAN 1 Mandirancan. Yaaa… memang walaupun pendaftaran belum dimulai au ingin mencari informasi tentang sekolah itu.
“Assalamu’alaikum pak, Fit mau tanya punya brosur SMAN 1 Mandirancan beserta formulirnya enggak?” tanya aku kepada Wakasek Kesiswaan, Drs.H. Misnen.
“Oh iyaaa... beberapa bulan yang lalu pernah ada yang dari SMAN 1 Mandirancan kesini memberikan formulir dan sebagainya, coba cari kertasnya di meja bapak di tumpukan buku!” Jawab Pak Misnen.
“Oh iya nih pak ada ternyata. ( lalu aku baca sampai selesai ) Adddduuuhhh… pak ini ada 2 jalur masuk SMAN 1 Mandirancan, yang 1 jalur prestasi dan 1 nya lagi jalur regular. Tapi pak… yang jalur prestasi sudah terlambat pak! Pendaftarannya sudah dimulai dari bulan Februari lalu. Sekarang tanggal 13 April pak, gimana atuh?” kekhawatiranku tak ingin melewatkan jalur prestasi tersebut.
“Aduh, masa iya udah telat? Atuh suratnya tuh disimpen aja gak pernah dilihat-lihat baru sekarang kebukanya. Sok atuh coba dilihat persyaratan jalur prestasi apa saja?” Pak Misnen dan guru-guru lain mulai sibuk dengan siswa-siswi yang akan masuk SMAN 1 Mandirancan.
“Ini pak, persyaratan administrasinya banyak. Utamanya harus pernah menjadi juara umum. Test tulisnya mulai tanggal 15 April 2011 pak.” Sambil melihat berkas persyaratan.
“Berarti testnya mah belum terlambat ya?” jawab Pak Yanto guru Olahraga.
Kemudian Pak Yanto sibuk mencari No. Hp guru di SMAN 1 Mandirancan, dan menelponlah kepada Pak Suleha. Ternyata setelah ditelepon masih bisa daftar dengan jalur prestasi. Alhamdulillah…
Kemudian 3 siswa yang pernah mendapatkan juara umum dikumpulkan, yaitu Aku sendiri, Nur Ilman, dan Evi Fitriani. Serta bagian Tata Usaha sibuk mengumpulkan administrasi yang dibutuhkan untuk registrasi. Setelah semua berkas yang dibutuhkan sudah terkumpul maka langsung Pak Maman pergi ke SMAN 1 Mandirancan untuk mendaftarkan Aku dan 2 orang lainnya dengan jalur prestasi.
Setelah test pada tanggal 15 April, kemudian ada surat pengumuman dari SMAN 1 Mandirancan tentang siapa saja yang diterima dari jalur prestasi tersebut. Ternyata ada 2 orang yaitu Aku dan Nur Ilman. Wow… senengnya luar biasa!!
Tapi sayangnya, Ilman gak ambil kesempatan itu. Dia memilih sekolah ke SMAN 1 Sumber dengan 2 sahabat lainnya.
Komitmen dari jalur prestasi itu harus mendapatkan rangking 1 di kelas. Kalau tidak beasiswa di cabut! Dana Sumbangan Tahunan GRATIS! dan SPP GRATIS selama 6 bulan jika mendapat rangking 1 di kelas. Aku harus menjaga benar-benar kesempatan ini tak boleh menyia-nyiakannya. Mungkin aku salah satu orang yang beruntung setelah mereka (teman-teman dari sekolah lain).
Kemudian, di sekolah itu aku mengikuti  berbagai kegiatan, ya untuk menambah-nambah ilmu dan pengalaman. Di kegiatan OSIS aku belajar tentang organisasi yang sangat bermanfaat sekali. Disini pula aku temukan sahabat baru, merekalah Nok Farida dan Ami Masturoh. Dulu memang, kami tak saling mengenal dan tak akrab sama sekali. Namun... Lambat laun kami mulai mempelajari masing-masing karakter. Yaa… memang kami dulu berbeda sekolah asal. Namun, keyakinan kami tuk saling mengenali satu sama lain sangat besar, memahami karakter itu mungkin bagi sebagian orang sulit, karena terkadang karakter itu berubah-ubah. Namun, karakterlah yang dapat melahirkan pengertian. Pengertian untuk saling memahami dan saling mengerti. Kebersamaan kami dimulai ketika kegiatan-kegiatan yang berbau OSIS, tapi kadang setelah itu jauh kembali. Kami pun mencoba untuk membenahi itu semua, untuk memperbaiki kesalahan itu agar bisa terus bersama-sama setiap saat.
Sering kali kami habiskan waktu untuk di sekolah menyelesaikan pekerjaan OSIS yang mulai menumpuk. Apalagi waktu tanggal 6 - 8 Mei 2013 kemarin kami baru saja melaksanakan kegiatan PLASMA salah satu acara Ulang Tahun Sekolah tercinta kami SMAN 1 Mandirancan. Ketika itu benar-benar waktu kami habiskan untuk PLASMA, sehingga keakraban kami pun terus terjaga. Hari demi hari kedekatan batin kami semakin terasa hingga mempunyai keinginan membeli pakaian yang sama, benda yang sama, udah kaya orang pacaran saja. Hehe…
Kadang-kadang jika sedang berkumpul tak lepas untuk tetawa, bercanda, dan bercerita. Kedekatan kami pun sangat diperhatikan oleh Pak Pembina OSIS, itulah bapak guru kami yang gaul, yang sama-sama gokil. Tak canggung jika ikut bercanda bersama kami, maklum saja beliau merasa guru muda.
Oiya, kebetulan waktu itu notebook aku rusak, aku ingin menyervisnya ke Cirebon. Tiba-tiba Ami bilang sama aku “Fit, ntar mau ke Cirebon kan sama Pak Wawan benerin notebook? ntarnya anter Ami yukkk...??” Ami meminta kepada dengan suara pelan.
“Emang mau dianter kemana sih?” tanyaku penasaran.
“Hehe… Ami pengen beli Hp baru Fit. Hahaha…” Ami tertawa.
“Ciie Ciie… yang mau beli Hp baru, beda aja yang punya uang mah. Hahaha…” candaan aku kepada Ami.
“Hehe, iya Aminya gak tau tempatnya Fit. Nanti ajak Nok Farida juga yahh?” tak mau ninggalin Nok Farida rupaya.
“Oke… Okee… Siiipppp!!”
            Lalu setelah PLASMA selesai, Aku, Ami, Nok, dan Pak Wawan pergi ke Cirebon untuk menyervis notebook aku. Ehh… setelah itu mampir ke Grage Mall untuk beli Hp Ami dan hanya sekedar mampir berphoto box disana, setelah itu pulang.
            Sebelumnya kami pun pernah pergi ke Cirebon, waktu itu ada acara Muludan. Biasanya di Cirebon itu banyak yang berjualan, biasa obralana pada murah-murah. Hehe.. kami bertiga pun membeli rok panjang untuk sehari-hari yang warnanya sama, coraknya sama, dan modelnya sama. Kebetulan kami bertiga wanita berkerudung, ciiieee gaya berkerudung. Hehe…
“Ekh,,, beli sesuatu yang samaan yukk…??? Apa gitu… ???” Ajakan Nok Farida.
“Hayu… Hayuu… rok aja tah yang samaan?” saran aku.
“Oh iya, di tempat sebelah sana ada rok ya lumayan bagus, tapi harganya terjangkau. Haha…” (sambil menunjuk kea rah depan) jawab Ami.
            Lalu kami bertiga belanja-belanja cari barag samaan, ribetnya minta ampun. Ada yang beda motif aja komplen, jadi harus cari yang benar-benar sama.
            Hari demi hari pun kadang selalu dihabiskan bertiga, ya memang ada yang ketinggalan pak Pembina OSIS yang gokil kadang selalu ada ditengah-tengah kita selalu member motivasi dan arahan tentang masa depan serta cita-cita kita bertiga. Ya memang kami akui beliau sangat baik dan sangat semangat untuk mendidik siswa-siswinya. Menurut kami pula, beliau adalah sosok yang aktif dan juga energik. Multitalenta juga kami katakan, karena beliau serba bisa. Wajar saja jika beliau menghabiskan waktu disekolah, untuk mengajar siswa-siswi OSN Komputer dan Astronomi, mengurus siswa-siswi yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN undangan, SBMPTN, dll., melaksanakan tugasnya sebagai Pembina OSIS, banyaklah pokoknya. Belum lagi jika sampai kerumah beliau harus berkumpul bersama keluarganya.  Mungkin tidak salah kalau banyak orang yang mengatakan “Sampai tak ingat kepada istri dan anak dirumah. Hehe…” Tapi pengertian dan kesetiaanlah yang memang istri tercintaya itu pegang, karena ia tahu itulah kewajiban suaminya disekolah. Dari sekian banyak kesibukan yang dijalani beliau selalu menyempatkan untuk berkumpul bersama kami bertiga. Aku, Ami, Nok sangatlah bangga mempunyai pembimbing seperti beliau. Ya semoga saja, beliau selalu diberikan kesehatan untuk terus berkarya, berprestasi, dilimpahkan rezeki yang halal, dan dapat terus mendidik siswa-siswinya menjadi yang lebih baik dari padanya.
“OSN seperti hajat saya, kalau saya tidak terjun langsung terasa gimana gitu.” Kata beliau ketika akan menghadapi OSK 3 April lalu di Kuningan.
“Mengapa bapak ingin membimbing siswa OSN, membimbing siswa-siswi yang mau ke perguruan tinggi, dan membimbing siswa-siwi yang akan lomba? Padahal kan guru itu bukan bapak saja, tapi bapak begitu peduli dengan mereka?” tanya kami bertiga kepada beliau.
“Saya pernah mendengar 1 pepatah bahwa, orang yang sukses adalah orang yang dapat mensukseskan orang lain. Tentu dengan mensukseskan orang lain maka kita akan sukses. Oh iya satu lagi, setiap siswa memiliki potensi, yang tanpa terkecuali baik itu di bidang akademik, olahraga, seni dan lain sebagainya. Dan tugas kami sebagai guru adalah menyadarkan, memotivasi dan mengarahkan agar potensi tersebut tereksplor dengan baik.” Penjelasan beliau yang menurut kami cukup bijak.
Itulah yang membuat kami, khususnya aku sendiri kagum kepada beliau. Rasa peduli yang beliau berikan tentu sangat luar biasa dan juga Insya Allah diikuti keikhlasan. Tak banyak orang yang mendahulukan orang lain untuk sukses disamping dirinya masih membutuhkan kesuksesan. Mungkin orang-orang diluar sana tentu akan egois, karena mereka akan mementingkan kesuksesan dirinya sendiri.
Aku tak banyak keinginan, dalam hati sanubariku hanya ada harapan bahwa suatu hari nanti dapat bermanfaat untuk banyak orang. Artinya, berarti kinerja kita itu dibutuhkan dan dipercaya oleh orang lain. Entah itu menjadi dokter, guru, penulis, penjahit, petani atau yang lainnya. Tentunya semua pekerjaan itu sangat mulia, namun kuncinya bagaimana cara kita dapat memuliakan pekerjaan itu?
Ketika kami berempat berkumpul, pasti beliau sealu bertanya. Kamu ingin menjadi apa? Ya tentu cita-cita kami masih berubah-ubah, kadang masih banyak pilihan, kadang masih bingung dan galau. Ya katanya “Nanti saya coba arahkan siswa-siswi kelas XII agar dapat mengerucutkan pilihn mereka, termasuk kamu-kamu.”
Ya, kami bertiga berharap suastu saat nanti kami dapat masuk ke perguruan tinggi negeri melalui jalur undangan dan mendapatkan program pemerintan Bidik Misi agar dapat meringankan beban orang tua kami. Ingin membuat orang tuaku menangis karena bangga melihat anaknya sukses, karena saking bahagianya. Inginkan merubah taraf hidup orang tua kami sehingga menjadi lebih baik lagi, dan mewujudkan cita-cita yang telah diimpikan sekian lamanya.
Kini tugas terbesar kami adalah Belajar! Belajar! Belajar dan Belajar! Jangan pernah lelah untuk terus menuntut ilmu dan mencari pengalaman baru. Karena sampai tua nanti nanti ilmu dan pengalaman akan terus dibutuhkan.
Menjadi seorang guru dan penulis adalah keinginanku, tak banyak yang ingin aku impikan selain ingin mengabdikan apa yang aku miliki kepada orang lain. Ilmu yang sekian tahun aku dapatkan dari bangku sekolah dan lingkungn masyarakat, ingin aku transferkan kembali kepada mereka yang memang membutuhkan ilmu tersebut. Yakinlah Allah akan selalu ada bersama kita, dan Allah selalu melihat gerak-gerik kita. DIA akan memberikan sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan!