menjadi orang yang di butuhkan oleh banyak orang.. :)

Dalam sebuah pelatihan menulis, terdiamlah ia. Seorang pelatih yang sedang menjelaskan di depan para peserta sentak terdiam. Khusyuk melihat seorang wanita berkerudung merah maroon yang duduk di pertengahan ruangan. Dalam pelatihan itu, senyumnya telah membuat bayangan yang nyata. Selama berjalannya pelatihan ia menaruh pandang selintas.
"Kerudung merah maroon, wanita yang mengenakan keudung itu." Kembali ia fokus, tetap menjaga pandangan.
Materi kepenulisan tetap ia sampaikan. "Jadi dalam menulis, jangan pernah takut salah untuk mengetikkan setiap katanya. Hal yang penting bagi penulis apa yang kita tulis dapat bermanfaat dan dapat mengajak pembaca terbaca suasana terhadap tulisan kita.
Menulis, kita harus punya waktu dimana dalam satu hari jadwalkan untuk menulis walaupun hanya 10 menit. Terserah apa yang mau dituliskan. Pokoknya tulis."
"Lalu kapan golden time kita agar bisa menulis dengan baik?" Tanya seorang peserta.
"Oke. Mengenai golden time setiap orang punya waktunya berbeda-beda. Contoh, saya menulis dikala saya memegang hp, buka social media dan saya tulis apa yang ingin saya katakan. Ya walau kadang gambar tak selaras dengan caption,, yang penting apa yang sebenarnya kita akan tonjolkan dari post kita? Gambarnya? Atau tulisannya?”
"Oh ya kak, ketika dalam menulis kita sering merasa tidak ada ide, bagaimana cara memunculkan ide dalam pikiran kita? Padahal waktu itu adalah waktu rutin kita untuk menulis?" Tanya kerudung maroon di pertengahan ruangan.
“Oh, ide... ya... Ide... oke ide." gugup secara tiba-tiba, tetiba jantung berdebar tak beraturan. Seperti baru mendapat kabar duka yang menakutkan.
"Jadi bagaimana kak jawabannya?" .
"Oh ya. Jawaban adalah... Ketika kita merasa tidak punya ide ya tuliskan kenapa saat itu kita tidak punya ide. Bagaimana cara mengatasinya. Contoh... Saya malam ini tidak bisa menuliskan apa-apa lantaran ide tidak muncul dari tadi saya cari. Entah saya harus menulis apa. Tapi saya tetap menulis dengan kata yang tak beraturan. Oke seperti itu.. lama-lama tidak disadari tulisan itu sudah sampe satu lembar bahkan berlembar-lembar membahas mengapa kamu tidak bisa menulis malam itu.”
Singkat cerita,
Usai sudah pelatihan itu. Peserta pelatihan satu persatu meninggalkan ruangan. Tersisa para panitia dan pelatih di dalam ruangan tersebut. Datanglah pelatih itu ke salah satu panitia.
"Maaf mbak mau tanya, kalau yang tadi di tengah ruangan sana ada yang pakai kerudung maroon itu siapa ya?"
"Oh itu... sebentar saya carikan didaftar hadir dahulu. Tapi sebelumnya ada keperluan apa kak?" Tanya heran salah satu panitia pelatihan.
"Saya ada keperluan sama dia mbak. Boleh minta kontaknya?"
"Ini pak ada kontaknya, Alhamdulillahnya saya masih ingat dia ngisi daftar hadir dimana."
Segera ia mencatat kontak wanita itu.

***

Malam yang sama pada hari yang sama, setelah berlalunya pelatihan menulis disalah satu kota besar siang itu, ia membuka lagi kontak baru yang telah tersimpan di gadgetnya.

Syifa..
Ternyata namanya Syifa,
Engkau wanita yang penuh tanya?
Matamu berkilau...
Mungkin engkau akan menjadi penyembuh luka lamaku dan akan menjadi penawar rinduku selama ini, akan tulang rusuk yang sempat hilang dan butuh pelengkap...
Bismillah...
"Assalamu'alaykum Syifa. Saya Furqon yang tadi ngisi pelatihan menulis. Boleh saya mengenal kamu?" Terkirimlah sebuah sms ke kontak yang baru tersimpan dalam hpnya. Sms pertama telah terkirim.

Tak lama kemudian…
"Wa'alaykumussalam... Oh iya kak Furqon. Salam kenal saya Syifa. Pelatihannya keren tadi. Ngomong-ngomong dari mana kaka dapat kontak saya dan ada keperluan apa?"
"Ada yang berbaik hati memberikan kontak kamu kepada saya. Apa Syifa keberatan?"
"Oh, tidak. Jika ada hal penting yang ingin disampaikan silahkan."



***
Tak terasa sudah satu minggu komunikasi itu berjalan. Sedikit banyak sudah mengenal masing-masing.
"Assalamu'alaykum, kak... Mohon maaf. Kita sudah sama-sama dewasa. Kaka pasti sudah mengerti apa yang salah dan apa yang benar. Jika kaka sudah tidak ada keperluan lagi tolong jangan hubungi saya."
Kemudian  tiba-tiba bunyi hp Furqon berdering begitu kencang.
"Serem juga" ucap dalam hati.
"Wa'alaykumussalam. Ya udah, kalau memang begitu saya akan datang ke Bapakmu."
"Mau ngapain Kak?"
"Loh, emang gak boleh? Katanya ngehubungin kamu ga boleh, yaudah mau ketemu Bapakmu aja."
"Oke aku ngerti. Tunggu satu minggu. Aku istikhoroh dulu. Nanti apapun hasilnya aku kabarin Kaka ya."
***
Setelah itu, ia tak menghubungi wanita itu lagi. Laki-laki yang mungkin bisa disebut menyerah, tapi bukan juga menyerah. Ia hanya di tuntut berjuang lebih dari yang lain. Sudah tiga kali ia ditolak wanita.  Satu minggu itu tepat hari ini berakhir. Desak-desakan ia tak karuan dalam bis yang isinya penuh oleh penumpang sore itu. Gemetar hpnya ditambah deringan khas nada sms.
"Assalamualaikum kak. Saya akan beri jawaban untuk satu minggu ini."

Ketika ia sudah membaca pesan itu, tiba-tiba supir mengerem dengan mendadak. "Praaakkkk" tetiba hpnya jatuh dan terinjak oleh penumpang lain. Bersegeralah Furqon mengambil hp, dan layarnya tak bisa diselamatkan. Hancur... Tak ada kata yang bisa ia baca melalui layar hpnya itu. Tak sempat ia membalas sms Syifa beberapa menit lalu. Segeralah Furqon memberhentikan supir bis dan turun dari bis itu. Bergegas mencari tempat servis hp, ia harap isi sms dan kontak bisa ia selamatkan. Setelah setengah jam ia memutari jalanan itu, akhirnya didapatlah tempat servis hp di dekat jalan Merdeka.
"Mas, bisa benerin ini? Hp saya jatuh. Kira2 sms dan no hp masih selamatkah?"
"Ini LCDnya harus diganti, dan ternyata tempat sim card juga rusak hingga membuat kartu rusak. Kalaupun no hp kembali bisa di laporkan, namun kontak dan sms tidak kembali, Mas.



Sejatinya, hati adalah ruang yang butuh diisi. Namun, pengisian itu tergantung kepada nahkoda. Kemana ia membawa hati berjalan. Sosok Furqon menggerakan harinya dengan ikhlas. Pergilah ia dari tukang servis hp dan bergegas ia mencari mesjid.



***
Tiga hari kemudian...
"Jadi apa yang masih kamu tunggu?"
Seorang wanita yang bolak balik melihat hpnya tak ada balasan sekata pun dari seseorang pengisi pelatihan dua puluh lima hari lalu. Dalam sepertiga malam ia tak pernah bosan bertanya, jawaban mana yang salah? Jawaban mana yang keliru? Jawaban mana yang hendak dicari dahulu datang kini pergi seketika. Bagaimana jadinya seorang wanita menunggu? Walau semua orang tahu wanita tak bisa menunggu dan laki-laki butuh kepastian serta kepercayaan.
"Bagaimana seharusnya aku bersikap, Bi?" Tanya balik ia kepada ayahnya.
"Nak, jodoh itu gak bakal ketuker. Kalau kamu memang suka sama dia, dan nyatanya jawaban istikhoroh kamu benar meyakinkan kamu, ya mungkin dia benar jodohmu. Tetapi kita tidak tahu alamatya dimana? Orang tuanya dimana kita belum tahu. Datang sama Abi aja belum."
"Bi, dia mau dateng menemui abi waktu itu. Tapi aku bilang mau istikhoroh dulu."
"Ya sudah. Katanya dia penulis. Pasti dia punya biodata toh? Pasti alamat rumahnya ada di internet-internet." (bergegas ia mengambil hpnya).
Dicarilah alamat Furqon
Palembang... Ternyata alamat kakak yang sangat membuatnya kelimpungan beberapa hari ini.
"Palembang, Bi."
"Lalu? Kamu mau apa? Mau pergi kesana? Pantaskah?"
"Ndak, Bi." Syifa langsung meninggalkan orang tuanya.
Dicarilah kontak teman yang ada disekitaran Palembang. Ia ingat, ia pernah menyimpan kontak seseorang yang ia kenal waktu di pelatihan menulis.
Ridwan. "Aku akan hubungi Ridwan, aku akan meminta ia ke rumahnya untuk mencari tahu dimana kak Furqon."
"Assalamu'alaykum Ridwan. Apa kabar? Sudah lama tidak ada kabar. Bagaimana kabar menulismu udah berapa buku yang kini kamu terbitkan?"
"Wa'alaykumussalam Syifa. Sungguh aku terkejut. Mungkin kontakmu sudah tertimpa bahkan tertindih saking kita tak bertukar kabar. Kabarku baik, kamu gimana? Wahh kabar menulis Alhamdulillah lagi running buku kedua."
"Alhamdulillah baik juga Wan. Makin keren aja nih. Eh kamu lagi di Palembang?"
"Ah biasa.. masih kalah sama kamu. Iya kebetulan kemarin saudara ada yang meninggal jadi aku pulang ke Palembang. Kenapa?"
"Wan, kamu tau Kak Furqon?"
"Furqon Setiadi? Penulis melankolis?"
"Yap. Betul. Kamu tau rumahnya? Ternyata orang Palembang loh."
"Iya betul memang beliau orang Palembang. Aku tau kan beliau saudaraku."
"Oh ya? Kok aku baru tau? Sekarang beliau dimana Wan?".
"Oiya baru aku kasih tau nih, kabar duka. Beliau 4 hari yang lalu meninggal dunia di daerah Bandung. Ketika beliau hendak mau ke mesjid. Kami juga diberi tahu oleh polisi dari kartu identitas dan hp nya rusak pada saat itu. Jadi kontak pun tak ada."
Terdiamlah Syifa. Tetesan air mata tiba-tiba berjalan lambat dari matanya dan semakin deras. "Kalau empat hari lalu, berarti... Ketika aku sms dia kemudian tak ada balasan lagi? Pada saat itu... Bukan ia tak ingin membalas. Tapi hp nya rusak dan terkena musibah?" Tanyanya dalam hati.
Tangisnya kini menjadi bukti bahwa telah tumbuhlah perasaan buah dari pertemuan dua puluh tujuh hari lalu.
“Ya Allah mengapa Engkau begitu cepat mengambil nikmat yang baru sebentar aku rasakan ini?” Pertanyaan lirih dalam hati.
“Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Jadi, Kak Furqon udah gak ada Wan? Wan… kapan-kapan aku mau cerita ya… terima kasih atas informasinya ya. Aku ikut berduka cita, mudah-mudahan amal ibadahnya diterima di sisi Allah dan karya-karyanya dapat bermanfaat bagi generasi muda yang ingin mengasah potensinya untuk menulis.”
“Iya, terima kasih Syifa, kalau boleh tau kenapa kamu menanyakan Furqon?”
“Nanti aku mau ceritanya ya Wan. Aku pasti hubungi kamu lagi. Wassalamu’alaykum.”
Rintikan hujan menemani kesendirian Syifa malam itu, kertas putih dan pena akan menjadi teman untuk menghabiskan malamnya. Namun tak kunjung ia tulis kata, yang ada kertas basah dengan tetesan air mata yang entah mengapa terus berlinang. Pertemuannya belum terhitung satu bulan, tapi sesaknya seperti perasaan yang dipaksa tertidur puluhan tahun lamanya. Waktu telah menunjukkan pukul 03.30 WIB. Matanya belum tertidur sedetik pun.
Dalam sepertiga malam ia tak pernah bosan bertanya, “Jawaban mana yang salah? Jawaban mana yang keliru? Jawaban mana yang hendak dicari dahulu datang kini pergi seketika.”
Kini jawaban tak ada yang salah, tak ada yang keliru tetapi ada jawaban yang hendak ia harus mencarinya lagi.
***
Langit biru, pagi ini cuaca begitu cerah. Di tanah Sumatera ternyata sedang ada obrolan hangat. Secangkir kopi dan segulung koran telah tersanding di meja pagi itu.
“Bro, gue masih kepikiran mimpi dua hari lalu.” Feri membuka obrolan pagi.
“Lah, memangnya lo mimpi apa? Jadi penasaran kan…” jawab Ridwan.
“Tau gak, almarhum abang gue, bang Furqon masa tiba-tiba bilang nitip salam sama Syifa. Ya kan gue bingung Syifa yang mana.”
“Siapa-siapa? Syifa? Syifa mana?”
“Tau dah, mana gue tau. Menurut lo, gue harus kaya gimana? Besok gue balik ke Jakarta, ada kerjaan. Kira-kira Syifa orang mana ya? Kali aja gitu, tiba-tiba gue ketemu dia di Jakarta.”
“Mimpi jelasnya kayak gimana? Gue kenal yang namanya Syifa, dan kemaren banget baru kontekan sama dia, dia juga nanyain abang lo Fer.”
“Mantappp! Kasih gue kontaknya Wan.”
“Emang lo yakin Syifa dia?”
“Siapa tau, gue mau selidikin dulu. Kayaknya abang gue menyimpan perasaan sama tu cewek.”
“Kan abang lo udah gak ada, kalaupun abang lo nyimpen perasaan sama tu cewek terus mau diapain? Mau lo nikahin? Hahah kocak.”
“Hmmm… terserah lu Wan, yang penting gue minta kontak tu cewe.”
“Yaudah nanti gue kirim.”
***
Empat hari kemudian.
Sayupan angin, desir ombak dan teriknya matahari menemani Syifa di siang itu. Ternyata ia sedang menunggu Ridwan, bersama teman perempuan lainnya ia akan turut bercerita kisah satu bulan yang lalu hingga detik ini.  
“Ridwan sini!”
“Assalamu’alaykum Syifa dan teman-temannya.”
“Yaa.. Wa’alaykumussalam, perkenalkan ini Andin, Riri dan Hanifa sahabatku.”
“Oke, salam kenal. Saya Ridwan. Oiya, Syifa kamu mau cerita apa?”
“Jadi gini Wan, to the point ya… entah aku kenapa. Mungkin Kak Furqon sudah gak ada di dunia ini, tapi perasaan ku belum pergi. Bahkan semakin membuncah.”
“Perasaan? Perasaan yang kamu maksud gimana?”
“Ya… sebulan yang lalu, Kak Furqon mengisi pelatihan menulis di Bandung. Aku sempat menghadiri pelatihan itu, satu minggu setelah pelatihan itu, aku memutuskan untk menyudahi komunikasianku dengan Kak Furqon, lantas Kak Furqon mengatakan akan menikahi ku dan ia akan datang kepada Abiku, namun aku bilang akum au istikhoroh dulu, setelah aku dapat jawaban dari istikhoroh itu aku menghubungi Kak Furqon untuk memberi jawaban atas istikhorohku. Aku pun telah mengatakan hal ini kepada Abi, sekitar 4 hari kami mencari tahu kabar dia. Akirya aku tahu kabar dari kamu Wan. Lelaki yang akan menikahiku telah dipanggil terlebih dahulu oleh sang Maha Kuasa. Kita baru sebulan ketemu, pertama kali ku mengenalnya di pelatiha itu, namun perasaan ini seperti aku udah tahan-tahan puluh-puluh tahun lalu, mungkin orang lain menganggapku aku terlalu berlebihan. Apakah aku salah?”
“Masya Allah… Furqon, Syifa? Aku baru tahu cerita ini. Ternyata kalian sudah sekian langkah mempersiapkan peristiwa sakral. Aku hanya ingin mengatakan, berlapang dadalah kamu akan perasaanmu, dari sini kamu bisa belajar apa itu artinya ikhlas? Banyak hikmah yang kamu bisa ambil, dari berbagai sisi. Aku jadi teringat, dan aku jadi paham dan sekarang aku yakin. Ternyata yang di maksud Syifa oleh Feri beberapa hari lalu itu ya benar memang Syifa kamu.”
“Siapa Wan? Feri? Dia siapa?”
“Feri itu adiknya Furqon, dia kemarin bilang dia mimpi Furqon menitipkan salah kepadanya untuk Syifa. Tapi Feri gatau Syifa yang dimaksud siapa.”
“Mimpi jelasnya seperti apa?”
“Entahlah aku belum tahu, tunggu saja Feri menghubungimu, aku sudah kasih kontak kamu ke Feri.”
Disaat obrolan sedang serius, datanglah tiba-tiba seorang laki-laki. “Assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumussalam Feri??? Lo tahu dari mana kita ada disini?”
“Engga tau kalian disini, gua memang udah diagendakan mau kesini buat liburan. Terus dari kejauhan keliatan kaya lo Wan, yaudah gue samperin.”
“Nah ini Syifa, Feri yang aku maksud. Dan nah ini Feri, Syifa yang aku maksud. Silahkan kalian mengutarakan apa yang kalian ingin sampaikan.”
“Oke, Jadi gini Syifa, tiga hari setelah bang Furqon meninggal dia datang di mimpi aku, dia bilang nitip Syifa, titip salam buat Syifa, jaga Syifa dan dia bilang tolong nikahin Syifa.”
“Apa? Nikahin? Bang Furqon suruh lo nikahin Syifa?”
“Ya, tapi kan gue cuma nyampein aja… keputusan ada di Syifanya dong.”
“Mungkin Syifa butuh waktu sendiri dulu. Terima kasih atas informasinya.” Hanifa menengahi pembicaraan itu, karena terlihat Syifa mulai berkaca-kaca.
“Yaudah kita pergi dulu ya.”
Setelah mereka pergi dari obrolan itu. “ Apa-apan ini?” Syifa memberontak.
“Tenang, sabar, jodoh ada di tangan Allah Syif. Dia yang akan benar-benar datang ke rumah mu dan bertemuorang tuamu ia akan menjadi pertanda niat dan tekad yang kuat untuk membersamai harimu.” Nasihat Riri kepada Syifa.
Setelah itu mereka pulang, Syifa kembali di temani kertas dan tinta. Malam itu tak seperti biasa ramai sekali ruang tamu rumahnya, entah apa yang terjadi. Namun ia enggan keluar. Setelah ruang tamunya sepi ia mencoba mencari tahu, siapa yang hendak bertamu.
“Bi, Umi tadi kayaknya ruang tamu ramai, ada apa?”
“Syifa, kamu kenal sama Feri dan Ridwan, nak?”
“Ridwan udah lama kenal, Feri baru tadi siang aku kenal Mi. Kenapa?
“Pertama Ridwan datang ke sini, dia ingin melamar kamu. Menghadap Abi mu dan dia ingin menyegerakannya. Beberapa menit kemudian, ketika Ridwan sudah pulang ada Feri juga, dia mengutarakan niatnya untuk melamar dan menikahimu Nak.”
“Apa Mi? mereka mau melamarku?”
“Yaa Nak, kamu sudah kenal mereka sampai mana? Kalau melihat dari penampilannya sepertinya mereka orang baik, dan keputusan ada di kamu.”
“Bi, Mi, Furqon sudah meninggal. Dan Feri adalah adiknya Furqon, lantas Ridwan saudaranya Furqon. bagaimana aku bisa secepat itu berjalan? Sudah tau bahwa mereka anggota keluarganya?”
“Nak, yang sudah tidak ada jangan dipikirkan. Tentulah Allah sayang sama Furqon dan Allah sayang sama kamu, makannya Allah segera menggantikan seseorang untukmu, tinggal keputusanmu memilih antara keduanya. Tidak masalah mereka anggota keluarganya, sekali pun itu adiknya. Karena Furqon jelas-jelas belum menemui Abi dan Umi lantas mereka sudah. Abi sudah bilang ke mereka tunggu jawabannya 5 hari lagi. Tugasmu berserah diri lagi kepada Maha Pembolak Balik Hati memohon diteguhkan hatinya agar bisa memilih antara keduanya.”
“Apakah aku ahrus memilih antara keduanya Bi, Mi?”
Ada seseorang yang berkata “Aku heran kepada pemuda yang ada dalam kekafiran, sementara rabbnya menjanjikan kekayaan dalam pernikahan. Mengapa tak menyegerakan?”
“Mungkin kamu bisa ambil hikmahnya dari perkataan orag itu.”
“Baik Bi, Mi, aku akan menjawab hal ini pada waktunya.”
***
Hari-hari yang dilalui Syifa penuh pengharapan, lima hari adalah waktu dimana ia harus memilih siapa yang akan membersamai hari-harinya. Berdakwah bersama, merajut keluarga islami, mendidik anak-anaknya menjadi penghafal-penghafal Qur’an penolong orang tua. Do’a-do’a yang ia panjatkan meminta agar diteguhkan hati untuk memilih. Memilih obat yang selama ini bisa menawar rindu. Menjadi penenang kala akan kegelisahan datang, menjadi penyejuk kala hati dirundu amarah.
Malam ini malam terakhir, malam kelima Syifa harus menentukan pilihan.
“Bismillah…”
“Siapa yang kamu pilih Nak?”
“Mudah-mudahan ini keputusan yang benar, jawaban atas kekeliruan dan kesalahan selama ini.”
“Alhamdulillah, sesuai dengan do’a Abi.”
“Umi juga.”
“Artinya kita sudah satu suara, mudah-mudahan ia akan menjadi penggenap agamamu yang baik Nak.”
***The End***



Apa?
Kau kata buat janji?
Itu janji mereka,
Mereka yang hanya sebuah lakon dalam cerita.
Cerita dimana mereka terlebih dahulu telah merasakan keromantisan Tuhan perihal cinta.
Kita tidak tahu,
kepada siapa cerita yang sama akan berpihak?
Dan kita tidak tahu,
Kapan cerita yang sama pula akan terjadi di waktu yang berlainan?
Bukankah Tuhan telah menggariskan cerita berbeda kepada setiap pribadi?
Cerita yang tak kalah romantis dan menakjubkan.
Lewat prolog dan klimaks yang akan membuat penonton terkagum kepada Pembuat Skenario.
Dan kita tak perlu mengunci cerita.
Kita hanya perlu merapihkan dan memperbaiki cerita.
Karena cerita bagaikan gulungan benang yang harus kita atur alurnya supaya tergulung rapi.
Jika kita lengah dalam menggulungnya, benang itu akan semrawut, bahkan terikat disuatu pertengahan.
Nah itu yang dinamakan mengunci cerita.
Kita harus memotong ikatan benang yang terikat, dan memulai cerita yang baru.
Bukankah mengunci cerita akan menyempitkan mimpi?
Walau mengunci cerita sebenernya hanya ingin menyampaikan komitmen.
.
.
Mencoba mengekspresikan, karena setiap rindu tak pernah sempurna untuk di ekspresikan.
.
.
Butuh tempat yang tepat untuk mulai beranjak.
.
.
27 Ramadhan 1437 H

[ Al - Imrān : 185 ~ Part 2 ]
Siapa yang menghendakinya?
Manusia?
Bukan.
Siapa yang menginginkannya?
Manusia?
Kadang bukan juga.
Analogi bila amalan dirasa belum cukup.
Siapa yang berbahagia atasnya terjadi?
Manusia?
Bukan juga sepertinya.
Lantas?
Yang Menciptakan yang memang menghendaki, dan mengizinkannya terjadi, karena setiap yang diciptakan olehNya akan kembali.
Lantas pula, pikiran yang telah terpaku kadang sulit untuk difahamkan.
‘Tadinya dia sakit? Kan engga.
Kok tiba-tiba meninggal?’
'Dia sakit apa? Dengar kabar dia masih muda dan sehat-sehat aja, kemaren masih ketemu dan lebaran bareng. Gak nyangka ya.’ Jika takdir telah berkehendak, umur, kesehatan, sedang apa, di waktu kapan, tak bisa dikompromikan.
Ia tiba-tiba datang menghampiri tanpa permisi mungkin.
Jika malaikat permisi, mungkin Kita berkata nanti dulu ya, mau ibadah yang banyak dulu, mau sedekah, mau puasa, mau dzikir, mau berbuat baik dulu, mau minta maaf sama orang-orang dulu, dan mau membayar utang dulu
Begitu banyak hal yang musti dilakukan jikalau ada permisi diantara keduanya… -
-
-
Tak ada yang tahu kapan itu waktunya,
Terus perbaiki diri,
Terus menjadi yang terbaik untuk beribadah kepadanya,
Agar dapat dijemput dalam keadaan baik juga
.
.
.
Udah siap dijemput?
.
.
???
Entah ini salah siapa?
Karena diri ini tak ingin disalahkan.
Entah ini salah siapa?
Bukan mereka yang patut ku salahkan.
Aku juga tidak mau untuk disalahkan.
-_-
Dalam diam ku coba untuk ikhlas. Berani bergerak maju tanpa harus memikirkan apa yang terjadi? Lalu, harus ku apakan yang udah terjadi ini??? Jika ada tipex dan alat penghapus, aku hapus ini. Aku benci!
Tapi, aku tak ingin menjadi orang yamg kufur nikmat.
Tak pandai bersyukur atas apa-apa yang sudah digariskan (ada kesempatan untuk merubahnya tapi memilih jalan yang salah) bodohnya aku~~
Aku tak begitu menghargai waktu,
Aku pula tak begitu menghargai keadaan,
Dan mungkin aku tak menghargai orang2 yang sudah lelah berkorban serta mendoakan aku.
Aku tak ingin mengulang untuk kedua kali?
Tapi apa ini yang kedua kali?
Berulang-ulang aku lalukan ini
Benci aku!!!!!
Bolehkah aku membenci diri sendiri? Yang kadang diri ini terlalu egois bahkan ceroboh dengan kesempatan yang begitu bermakna jika dimanfaatkan dengan baik?
Tapi aku? 
Sayang, hanya penyesalan yang bisa aku nikmati sekarang.
Ntah, aku harus bagaimana bercerita kepada orang tersayang
Ntah, aku sekarang merasakan rintihan orang-orang yang (kemaren) bercerita kegalauan mereka.
Dan aku katakan, begitu baik kata-kataku untuk memotivasi orang
Nyatanya aku rasakan sekarang dan motivasi diri sendiri dari mulut sendiri mantul._.
Fit, ga boleh cape-cape ya…
Kasian nanti kalau begitu lagi.
Kasian kalau cuma di kasih otak sisa dan otak lelah aja.
Otaknya juga butuh istirahat…
Jangan terlalu banyak kegiatan ya…
Biar nanti bisa meroket bahkan melangit…
Semangat ya
Kamu udah dipecut,
Tinggal kamu sadar, dan bangun.
Bahwa mereka sudah berlari dari jauh jauh hari.
Semangat ya
Semangat ~
(Sebuah topik yang menginspirasi di waktu sore ini)
Bang Syaiha, sapaan akrab dari seorang penginisiasi Pejuang Pendidikan yang dahulu pernah mengabdi di sekolah pedalaman Kalimantan, menjadi salah satu orang hasil didikan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa kini mempunyai keahlian yang sangat menginspirasi. Menulis, setiap orang tentu pasti bisa menulis walau sering dikatakan tidak ada ide untuk menulis namun Bang Syaiha menyingkirkan hal itu dari benaknya. Kekurangan tidak pernah beliau jadikan sebagai beban, namun beliau jadikan sebagai kawan.
Menulislah Setiap Hari dan Tunggulah Kotak-kotak kecil Penuh Keajaiban datang Menghampiri adalah topik yang beliau sampaikan dalam Pembinaan Bakti Nusa - Beastudi Etos. (15/10)
Pembinaan ini dihadiri oleh penerima manfaat Beasiswa Bakti Nusa, Beastudi Etos, dan beberapa Perwakilan BEM.
Pada pembinaan kali ini Bang Syaiha menjadi pemateri terakhir yang menyampaikan materi mengenai Writing and Journalistic Workshop. 
Secara tidak langsung penyampaian materi tentang kepenulisan ini membuat orang-orang yang hadir bergairah untuk menulis, apalagi dalan sesi awal penyampaian materi Bang Syaiha menyajikan vidio tentang perjalanan hidupnya dan segala keterbatasannya yang kini mampu membuatnya melangit.
Menulis berbicara bagaimana kita mengharumkan nama kita setelah mati, dan menulis berbicara tentang bagaimana kita membuat banyak kepala terinspirasi oleh tulisan kita, menjadikan pembaca terbawa menjadi lebih baik.
“Bang Syaiha menyampaikan materi dengan enjoy, asik, menarik, memotivasi, tidak terpaku oleh slide dan membuat aku yang tadinya tidak suka menulis menjadi ingin menulis, dan hari ini aku mulai mengazamkan diri untuk memulai menulis. Aku yang awalnya cuma suka membaca dan nih sekarang aku mau nulis.” Ujar Nurul Mustika Dewi salah satu penerima manfaat Beastudi Etos Bogor 2014.
Marilah menulis, karena jika kamu menunggu matahari terbenam untuk menulis. Maka kamulah yang menunggu Matahari terbit lagi untuk menunggu orang lain menikmati kebaikanmu.
Selamat menggoreskan kisah untuk menebar kebaikan.
FS