Dalam sebuah pelatihan menulis, terdiamlah ia. Seorang pelatih
yang sedang menjelaskan di depan para peserta sentak terdiam. Khusyuk melihat
seorang wanita berkerudung merah maroon yang duduk di pertengahan
ruangan. Dalam pelatihan itu, senyumnya telah membuat bayangan yang nyata.
Selama berjalannya pelatihan ia menaruh pandang selintas.
"Kerudung merah maroon, wanita yang mengenakan keudung
itu." Kembali ia fokus, tetap menjaga pandangan.
Materi kepenulisan tetap ia sampaikan. "Jadi dalam menulis,
jangan pernah takut salah untuk mengetikkan setiap katanya. Hal yang penting
bagi penulis apa yang kita tulis dapat bermanfaat dan dapat mengajak pembaca
terbaca suasana terhadap tulisan kita.
Menulis, kita harus punya waktu dimana dalam satu hari jadwalkan untuk menulis walaupun hanya 10 menit. Terserah apa yang mau dituliskan. Pokoknya tulis."
Menulis, kita harus punya waktu dimana dalam satu hari jadwalkan untuk menulis walaupun hanya 10 menit. Terserah apa yang mau dituliskan. Pokoknya tulis."
"Lalu kapan golden time kita agar bisa
menulis dengan baik?" Tanya seorang peserta.
"Oke. Mengenai golden time setiap orang
punya waktunya berbeda-beda. Contoh, saya menulis dikala saya memegang hp,
buka social media dan saya tulis apa yang ingin saya katakan.
Ya walau kadang gambar tak selaras dengan caption,, yang penting
apa yang sebenarnya kita akan tonjolkan dari post kita?
Gambarnya? Atau tulisannya?”
"Oh ya kak, ketika dalam menulis kita sering merasa tidak ada
ide, bagaimana cara memunculkan ide dalam pikiran kita? Padahal waktu itu
adalah waktu rutin kita untuk menulis?" Tanya kerudung maroon di
pertengahan ruangan.
“Oh, ide... ya... Ide... oke ide." gugup secara tiba-tiba,
tetiba jantung berdebar tak beraturan. Seperti baru mendapat kabar duka yang
menakutkan.
"Jadi bagaimana kak jawabannya?" .
"Oh ya. Jawaban adalah... Ketika kita merasa tidak punya ide
ya tuliskan kenapa saat itu kita tidak punya ide. Bagaimana cara mengatasinya.
Contoh... Saya malam ini tidak bisa menuliskan apa-apa lantaran ide tidak
muncul dari tadi saya cari. Entah saya harus menulis apa. Tapi saya tetap
menulis dengan kata yang tak beraturan. Oke seperti itu.. lama-lama tidak
disadari tulisan itu sudah sampe satu lembar bahkan berlembar-lembar membahas
mengapa kamu tidak bisa menulis malam itu.”
Singkat cerita,
Usai sudah pelatihan itu. Peserta pelatihan satu persatu
meninggalkan ruangan. Tersisa para panitia dan pelatih di dalam ruangan tersebut.
Datanglah pelatih itu ke salah satu panitia.
"Maaf mbak mau tanya, kalau yang tadi di tengah ruangan sana
ada yang pakai kerudung maroon itu siapa ya?"
"Oh itu... sebentar saya carikan didaftar hadir dahulu. Tapi
sebelumnya ada keperluan apa kak?" Tanya heran salah satu panitia
pelatihan.
"Saya ada keperluan sama dia mbak. Boleh minta
kontaknya?"
"Ini pak ada kontaknya, Alhamdulillahnya saya masih ingat dia
ngisi daftar hadir dimana."
Segera ia mencatat kontak wanita itu.
***
Malam yang sama pada hari yang sama, setelah berlalunya pelatihan menulis disalah satu kota besar siang itu, ia membuka lagi kontak baru yang telah tersimpan di gadgetnya.
Syifa..
Ternyata namanya Syifa,
Engkau wanita yang penuh tanya?
Matamu berkilau...
Mungkin engkau akan menjadi penyembuh luka lamaku dan akan menjadi penawar rinduku selama ini, akan tulang rusuk yang sempat hilang dan butuh pelengkap...
Bismillah...
"Assalamu'alaykum Syifa. Saya Furqon yang tadi ngisi
pelatihan menulis. Boleh saya mengenal kamu?" Terkirimlah sebuah sms ke
kontak yang baru tersimpan dalam hpnya. Sms pertama telah terkirim.
Tak lama kemudian…
Tak lama kemudian…
"Wa'alaykumussalam... Oh iya kak Furqon. Salam kenal saya
Syifa. Pelatihannya keren tadi. Ngomong-ngomong dari mana kaka dapat kontak
saya dan ada keperluan apa?"
"Ada yang berbaik hati memberikan kontak kamu kepada saya.
Apa Syifa keberatan?"
"Oh, tidak. Jika ada hal penting yang ingin disampaikan
silahkan."
***
Tak terasa sudah satu minggu komunikasi itu berjalan. Sedikit
banyak sudah mengenal masing-masing.
"Assalamu'alaykum, kak... Mohon maaf. Kita sudah sama-sama
dewasa. Kaka pasti sudah mengerti apa yang salah dan apa yang benar. Jika kaka
sudah tidak ada keperluan lagi tolong jangan hubungi saya."
Kemudian tiba-tiba bunyi hp Furqon berdering begitu kencang.
"Serem juga" ucap dalam hati.
"Serem juga" ucap dalam hati.
"Wa'alaykumussalam. Ya udah, kalau memang begitu saya akan
datang ke Bapakmu."
"Mau ngapain Kak?"
"Loh, emang gak boleh? Katanya ngehubungin kamu ga boleh,
yaudah mau ketemu Bapakmu aja."
"Oke aku ngerti. Tunggu satu minggu. Aku istikhoroh dulu.
Nanti apapun hasilnya aku kabarin Kaka ya."
***
Setelah itu, ia tak menghubungi wanita itu lagi. Laki-laki yang
mungkin bisa disebut menyerah, tapi bukan juga menyerah. Ia hanya di tuntut
berjuang lebih dari yang lain. Sudah tiga kali ia ditolak
wanita. Satu minggu itu tepat hari ini berakhir. Desak-desakan ia
tak karuan dalam bis yang isinya penuh oleh penumpang sore itu. Gemetar hpnya
ditambah deringan khas nada sms.
"Assalamualaikum kak. Saya akan beri jawaban untuk satu
minggu ini."
Ketika ia sudah membaca pesan itu, tiba-tiba supir mengerem dengan
mendadak. "Praaakkkk" tetiba hpnya jatuh dan terinjak oleh penumpang
lain. Bersegeralah Furqon mengambil hp, dan layarnya tak bisa diselamatkan.
Hancur... Tak ada kata yang bisa ia baca melalui layar hpnya itu. Tak sempat ia
membalas sms Syifa beberapa menit lalu. Segeralah Furqon memberhentikan supir
bis dan turun dari bis itu. Bergegas mencari tempat servis hp, ia harap isi sms
dan kontak bisa ia selamatkan. Setelah setengah jam ia memutari jalanan itu,
akhirnya didapatlah tempat servis hp di dekat jalan Merdeka.
"Mas, bisa benerin ini? Hp saya jatuh. Kira2 sms dan no hp
masih selamatkah?"
"Ini LCDnya harus diganti, dan ternyata tempat sim card juga
rusak hingga membuat kartu rusak. Kalaupun no hp kembali bisa di laporkan,
namun kontak dan sms tidak kembali, Mas.
Sejatinya, hati adalah ruang yang butuh diisi. Namun, pengisian
itu tergantung kepada nahkoda. Kemana ia membawa hati berjalan. Sosok Furqon
menggerakan harinya dengan ikhlas. Pergilah ia dari tukang servis hp dan
bergegas ia mencari mesjid.
***
Tiga hari kemudian...
"Jadi apa yang masih kamu tunggu?"
Seorang wanita yang bolak balik melihat hpnya tak ada balasan sekata pun dari seseorang pengisi pelatihan dua puluh lima hari lalu. Dalam sepertiga malam ia tak pernah bosan bertanya, jawaban mana yang salah? Jawaban mana yang keliru? Jawaban mana yang hendak dicari dahulu datang kini pergi seketika. Bagaimana jadinya seorang wanita menunggu? Walau semua orang tahu wanita tak bisa menunggu dan laki-laki butuh kepastian serta kepercayaan.
Seorang wanita yang bolak balik melihat hpnya tak ada balasan sekata pun dari seseorang pengisi pelatihan dua puluh lima hari lalu. Dalam sepertiga malam ia tak pernah bosan bertanya, jawaban mana yang salah? Jawaban mana yang keliru? Jawaban mana yang hendak dicari dahulu datang kini pergi seketika. Bagaimana jadinya seorang wanita menunggu? Walau semua orang tahu wanita tak bisa menunggu dan laki-laki butuh kepastian serta kepercayaan.
"Bagaimana seharusnya aku bersikap, Bi?" Tanya balik ia
kepada ayahnya.
"Nak, jodoh itu gak bakal ketuker. Kalau kamu memang suka
sama dia, dan nyatanya jawaban istikhoroh kamu benar meyakinkan kamu, ya
mungkin dia benar jodohmu. Tetapi kita tidak tahu alamatya dimana? Orang tuanya
dimana kita belum tahu. Datang sama Abi aja belum."
"Bi, dia mau dateng menemui abi waktu itu. Tapi aku bilang
mau istikhoroh dulu."
"Ya sudah. Katanya dia penulis. Pasti dia punya biodata toh?
Pasti alamat rumahnya ada di internet-internet." (bergegas ia mengambil
hpnya).
Dicarilah alamat Furqon
Palembang... Ternyata alamat kakak yang sangat membuatnya kelimpungan beberapa hari ini.
Dicarilah alamat Furqon
Palembang... Ternyata alamat kakak yang sangat membuatnya kelimpungan beberapa hari ini.
"Palembang, Bi."
"Lalu? Kamu mau apa? Mau pergi kesana? Pantaskah?"
"Ndak, Bi." Syifa langsung meninggalkan orang tuanya.
Dicarilah kontak teman yang ada disekitaran Palembang. Ia ingat,
ia pernah menyimpan kontak seseorang yang ia kenal waktu di pelatihan menulis.
Ridwan. "Aku akan hubungi Ridwan, aku akan meminta ia ke
rumahnya untuk mencari tahu dimana kak Furqon."
"Assalamu'alaykum Ridwan. Apa kabar? Sudah lama tidak ada
kabar. Bagaimana kabar menulismu udah berapa buku yang kini kamu
terbitkan?"
"Wa'alaykumussalam Syifa. Sungguh aku terkejut. Mungkin
kontakmu sudah tertimpa bahkan tertindih saking kita tak bertukar kabar.
Kabarku baik, kamu gimana? Wahh kabar menulis Alhamdulillah lagi running buku
kedua."
"Alhamdulillah baik juga Wan. Makin keren aja nih. Eh kamu
lagi di Palembang?"
"Ah biasa.. masih kalah sama kamu. Iya kebetulan kemarin
saudara ada yang meninggal jadi aku pulang ke Palembang. Kenapa?"
"Wan, kamu tau Kak Furqon?"
"Furqon Setiadi? Penulis melankolis?"
"Yap. Betul. Kamu tau rumahnya? Ternyata orang Palembang
loh."
"Iya betul memang beliau orang Palembang. Aku tau kan beliau
saudaraku."
"Oh ya? Kok aku baru tau? Sekarang beliau dimana Wan?".
"Oiya baru aku kasih tau nih, kabar duka. Beliau 4 hari yang lalu meninggal dunia di daerah Bandung. Ketika beliau hendak mau ke mesjid. Kami juga diberi tahu oleh polisi dari kartu identitas dan hp nya rusak pada saat itu. Jadi kontak pun tak ada."
"Oiya baru aku kasih tau nih, kabar duka. Beliau 4 hari yang lalu meninggal dunia di daerah Bandung. Ketika beliau hendak mau ke mesjid. Kami juga diberi tahu oleh polisi dari kartu identitas dan hp nya rusak pada saat itu. Jadi kontak pun tak ada."
Terdiamlah Syifa. Tetesan air mata tiba-tiba berjalan lambat dari
matanya dan semakin deras. "Kalau empat hari lalu, berarti... Ketika aku
sms dia kemudian tak ada balasan lagi? Pada saat itu... Bukan ia tak ingin
membalas. Tapi hp nya rusak dan terkena musibah?" Tanyanya dalam hati.
Tangisnya kini menjadi bukti bahwa telah tumbuhlah perasaan buah
dari pertemuan dua puluh tujuh hari lalu.
“Ya Allah mengapa Engkau begitu cepat mengambil nikmat yang baru
sebentar aku rasakan ini?” Pertanyaan lirih dalam hati.
“Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Jadi, Kak Furqon udah gak ada
Wan? Wan… kapan-kapan aku mau cerita ya… terima kasih atas informasinya ya. Aku
ikut berduka cita, mudah-mudahan amal ibadahnya diterima di sisi Allah dan
karya-karyanya dapat bermanfaat bagi generasi muda yang ingin mengasah
potensinya untuk menulis.”
“Iya, terima kasih Syifa, kalau boleh tau kenapa kamu menanyakan
Furqon?”
“Nanti aku mau ceritanya ya Wan. Aku pasti hubungi kamu lagi.
Wassalamu’alaykum.”
Rintikan hujan menemani kesendirian Syifa malam itu, kertas putih
dan pena akan menjadi teman untuk menghabiskan malamnya. Namun tak kunjung ia
tulis kata, yang ada kertas basah dengan tetesan air mata yang entah mengapa
terus berlinang. Pertemuannya belum terhitung satu bulan, tapi sesaknya seperti
perasaan yang dipaksa tertidur puluhan tahun lamanya. Waktu telah menunjukkan
pukul 03.30 WIB. Matanya belum tertidur sedetik pun.
Dalam sepertiga malam ia tak pernah bosan bertanya, “Jawaban mana
yang salah? Jawaban mana yang keliru? Jawaban mana yang hendak dicari dahulu
datang kini pergi seketika.”
Kini jawaban tak ada yang salah, tak ada yang keliru tetapi ada
jawaban yang hendak ia harus mencarinya lagi.
***
Langit biru, pagi ini cuaca begitu cerah. Di tanah Sumatera
ternyata sedang ada obrolan hangat. Secangkir kopi dan segulung koran telah
tersanding di meja pagi itu.
“Bro, gue masih kepikiran mimpi dua hari lalu.” Feri membuka
obrolan pagi.
“Lah, memangnya lo mimpi apa? Jadi penasaran kan…” jawab Ridwan.
“Tau gak, almarhum abang gue, bang Furqon masa tiba-tiba bilang
nitip salam sama Syifa. Ya kan gue bingung Syifa yang mana.”
“Siapa-siapa? Syifa? Syifa mana?”
“Tau dah, mana gue tau. Menurut lo, gue harus kaya gimana? Besok
gue balik ke Jakarta, ada kerjaan. Kira-kira Syifa orang mana ya? Kali aja
gitu, tiba-tiba gue ketemu dia di Jakarta.”
“Mimpi jelasnya kayak gimana? Gue kenal yang namanya Syifa, dan
kemaren banget baru kontekan sama dia, dia juga nanyain abang lo Fer.”
“Mantappp! Kasih gue kontaknya Wan.”
“Emang lo yakin Syifa dia?”
“Siapa tau, gue mau selidikin dulu. Kayaknya abang gue menyimpan
perasaan sama tu cewek.”
“Kan abang lo udah gak ada, kalaupun abang lo nyimpen perasaan
sama tu cewek terus mau diapain? Mau lo nikahin? Hahah kocak.”
“Hmmm… terserah lu Wan, yang penting gue minta kontak tu cewe.”
“Yaudah nanti gue kirim.”
***
Empat hari kemudian.
Sayupan angin, desir ombak dan teriknya matahari menemani Syifa di
siang itu. Ternyata ia sedang menunggu Ridwan, bersama teman perempuan lainnya
ia akan turut bercerita kisah satu bulan yang lalu hingga detik ini.
“Ridwan sini!”
“Assalamu’alaykum Syifa dan teman-temannya.”
“Yaa.. Wa’alaykumussalam, perkenalkan ini Andin, Riri dan Hanifa
sahabatku.”
“Oke, salam kenal. Saya Ridwan. Oiya, Syifa kamu mau cerita apa?”
“Jadi gini Wan, to the point ya… entah aku
kenapa. Mungkin Kak Furqon sudah gak ada di dunia ini, tapi perasaan ku belum
pergi. Bahkan semakin membuncah.”
“Perasaan? Perasaan yang kamu maksud gimana?”
“Ya… sebulan yang lalu, Kak Furqon mengisi pelatihan menulis di
Bandung. Aku sempat menghadiri pelatihan itu, satu minggu setelah pelatihan
itu, aku memutuskan untk menyudahi komunikasianku dengan Kak Furqon, lantas Kak
Furqon mengatakan akan menikahi ku dan ia akan datang kepada Abiku, namun aku
bilang akum au istikhoroh dulu, setelah aku dapat jawaban dari istikhoroh itu
aku menghubungi Kak Furqon untuk memberi jawaban atas istikhorohku. Aku pun
telah mengatakan hal ini kepada Abi, sekitar 4 hari kami mencari tahu kabar
dia. Akirya aku tahu kabar dari kamu Wan. Lelaki yang akan menikahiku telah
dipanggil terlebih dahulu oleh sang Maha Kuasa. Kita baru sebulan ketemu,
pertama kali ku mengenalnya di pelatiha itu, namun perasaan ini seperti aku
udah tahan-tahan puluh-puluh tahun lalu, mungkin orang lain menganggapku aku
terlalu berlebihan. Apakah aku salah?”
“Masya Allah… Furqon, Syifa? Aku baru tahu cerita ini. Ternyata
kalian sudah sekian langkah mempersiapkan peristiwa sakral. Aku hanya ingin
mengatakan, berlapang dadalah kamu akan perasaanmu, dari sini kamu bisa belajar
apa itu artinya ikhlas? Banyak hikmah yang kamu bisa ambil, dari berbagai sisi.
Aku jadi teringat, dan aku jadi paham dan sekarang aku yakin. Ternyata yang di
maksud Syifa oleh Feri beberapa hari lalu itu ya benar memang Syifa kamu.”
“Siapa Wan? Feri? Dia siapa?”
“Feri itu adiknya Furqon, dia kemarin bilang dia mimpi Furqon
menitipkan salah kepadanya untuk Syifa. Tapi Feri gatau Syifa yang dimaksud
siapa.”
“Mimpi jelasnya seperti apa?”
“Entahlah aku belum tahu, tunggu saja Feri menghubungimu, aku
sudah kasih kontak kamu ke Feri.”
Disaat obrolan sedang serius, datanglah tiba-tiba seorang
laki-laki. “Assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumussalam Feri??? Lo tahu dari mana kita ada disini?”
“Engga tau kalian disini, gua memang udah diagendakan mau kesini
buat liburan. Terus dari kejauhan keliatan kaya lo Wan, yaudah gue samperin.”
“Nah ini Syifa, Feri yang aku maksud. Dan nah ini Feri, Syifa yang
aku maksud. Silahkan kalian mengutarakan apa yang kalian ingin sampaikan.”
“Oke, Jadi gini Syifa, tiga hari setelah bang Furqon meninggal dia
datang di mimpi aku, dia bilang nitip Syifa, titip salam buat Syifa, jaga Syifa
dan dia bilang tolong nikahin Syifa.”
“Apa? Nikahin? Bang Furqon suruh lo nikahin Syifa?”
“Ya, tapi kan gue cuma nyampein aja… keputusan ada di Syifanya
dong.”
“Mungkin Syifa butuh waktu sendiri dulu. Terima kasih atas
informasinya.” Hanifa menengahi pembicaraan itu, karena terlihat Syifa mulai
berkaca-kaca.
“Yaudah kita pergi dulu ya.”
Setelah mereka pergi dari obrolan itu. “ Apa-apan ini?” Syifa
memberontak.
“Tenang, sabar, jodoh ada di tangan Allah Syif. Dia yang akan
benar-benar datang ke rumah mu dan bertemuorang tuamu ia akan menjadi pertanda
niat dan tekad yang kuat untuk membersamai harimu.” Nasihat Riri kepada Syifa.
Setelah itu mereka pulang, Syifa kembali di temani kertas dan
tinta. Malam itu tak seperti biasa ramai sekali ruang tamu rumahnya, entah apa
yang terjadi. Namun ia enggan keluar. Setelah ruang tamunya sepi ia mencoba
mencari tahu, siapa yang hendak bertamu.
“Bi, Umi tadi kayaknya ruang tamu ramai, ada apa?”
“Syifa, kamu kenal sama Feri dan Ridwan, nak?”
“Ridwan udah lama kenal, Feri baru tadi siang aku kenal Mi.
Kenapa?
“Pertama Ridwan datang ke sini, dia ingin melamar kamu. Menghadap
Abi mu dan dia ingin menyegerakannya. Beberapa menit kemudian, ketika Ridwan
sudah pulang ada Feri juga, dia mengutarakan niatnya untuk melamar dan
menikahimu Nak.”
“Apa Mi? mereka mau melamarku?”
“Yaa Nak, kamu sudah kenal mereka sampai mana? Kalau melihat dari
penampilannya sepertinya mereka orang baik, dan keputusan ada di kamu.”
“Bi, Mi, Furqon sudah meninggal. Dan Feri adalah adiknya Furqon,
lantas Ridwan saudaranya Furqon. bagaimana aku bisa secepat itu berjalan? Sudah
tau bahwa mereka anggota keluarganya?”
“Nak, yang sudah tidak ada jangan dipikirkan. Tentulah Allah
sayang sama Furqon dan Allah sayang sama kamu, makannya Allah segera
menggantikan seseorang untukmu, tinggal keputusanmu memilih antara keduanya.
Tidak masalah mereka anggota keluarganya, sekali pun itu adiknya. Karena Furqon
jelas-jelas belum menemui Abi dan Umi lantas mereka sudah. Abi sudah bilang ke
mereka tunggu jawabannya 5 hari lagi. Tugasmu berserah diri lagi kepada Maha
Pembolak Balik Hati memohon diteguhkan hatinya agar bisa memilih antara
keduanya.”
“Apakah aku ahrus memilih antara keduanya Bi, Mi?”
Ada seseorang yang berkata “Aku heran kepada pemuda yang ada dalam
kekafiran, sementara rabbnya menjanjikan kekayaan dalam pernikahan. Mengapa tak
menyegerakan?”
“Mungkin kamu bisa ambil hikmahnya dari perkataan orag itu.”
“Baik Bi, Mi, aku akan menjawab hal ini pada waktunya.”
***
Hari-hari yang dilalui Syifa penuh pengharapan, lima hari adalah
waktu dimana ia harus memilih siapa yang akan membersamai hari-harinya.
Berdakwah bersama, merajut keluarga islami, mendidik anak-anaknya menjadi
penghafal-penghafal Qur’an penolong orang tua. Do’a-do’a yang ia panjatkan
meminta agar diteguhkan hati untuk memilih. Memilih obat yang selama ini bisa
menawar rindu. Menjadi penenang kala akan kegelisahan datang, menjadi penyejuk
kala hati dirundu amarah.
Malam ini malam terakhir, malam kelima Syifa harus menentukan
pilihan.
“Bismillah…”
“Siapa yang kamu pilih Nak?”
“Mudah-mudahan ini keputusan yang benar, jawaban atas kekeliruan
dan kesalahan selama ini.”
“Alhamdulillah, sesuai dengan do’a Abi.”
“Umi juga.”
“Artinya kita sudah satu suara, mudah-mudahan ia akan menjadi
penggenap agamamu yang baik Nak.”
***The End***
